May 18, 2025

BFI Run 2025: Sebuah Personal Best yang Datang Tanpa Diduga


Kalau ada yang bertanya race mana yang paling mengejutkan tahun ini, jawabannya mungkin BFI Run 2025.

Lucunya, aku datang tanpa ekspektasi yang tinggi. Tidak memasang target waktu yang muluk, tidak menghitung setiap detik sepanjang lomba, dan tidak benar benar berpikir bahwa hari itu akan menjadi hari untuk mencetak personal best. Setelah beberapa bulan terakhir yang naik turun, mulai dari berat badan yang sempat meningkat, ritme latihan yang belum benar benar konsisten, sampai rasa ragu terhadap kemampuan sendiri, rasanya cukup kalau bisa menikmati race sampai garis finish.

 

Tapi ternyata, lari memang sering memberi kejutan.

Race dimulai dengan cukup nyaman. Aku berusaha menjaga ritme, tidak terbawa suasana, dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu cepat di awal. Satu hal yang berbeda hari itu adalah aku akhirnya mencoba sepatu baru, Saucony Endorphin Pro.

Jujur saja, awalnya aku cukup skeptis. Selama ini aku sering membaca orang bilang bahwa "super shoes" bisa membuat lari terasa lebih cepat. Dalam hati aku berpikir, "Ah, masa sih sepatu bisa bikin beda sejauh itu?"

Ternyata... mereka tidak berlebihan.

Setiap langkah terasa lebih ringan. Rasanya seperti kaki terus ingin bergerak maju. Tentu saja sepatu tidak menggantikan latihan, tapi rasanya benar benar membantu mengembalikan energi di setiap dorongan langkah. Baru kali itu aku benar benar mengerti kenapa banyak pelari rela berinvestasi pada sepatu race.

Semakin mendekati kilometer terakhir, aku mulai melirik jam. Angka yang muncul membuatku berpikir, "Eh... jangan jangan ini bisa PB."

Di momen itu semua rencana untuk tetap tenang langsung buyar.

Aku mulai menaikkan pace sedikit demi sedikit. Semakin dekat garis finis, semakin nekat juga langkahku. Yang penting tinggal sedikit lagi. Yang penting jangan menyerah sekarang.

Hasilnya memang sesuai harapan.

Personal Best.

  

Perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat catatan waktu di jam. Semua rasa lelah seolah langsung terbayar. Bukan karena angkanya saja, tetapi karena itu menjadi bukti bahwa proses yang selama ini terasa lambat ternyata tetap berjalan.

 

Sayangnya, tubuh punya cara sendiri untuk mengingatkanku bahwa aku terlalu bersemangat.

Beberapa menit setelah finis, aku sedang menelepon Ibu untuk memberi kabar kalau race sudah selesai. Di tengah obrolan itu, tiba tiba kedua kakiku mulai mengunci. Kram datang tanpa aba aba. Dalam hitungan detik aku langsung tumbang.

Untungnya cuma karena kram.

 

Kalau mengingatnya sekarang malah jadi lucu. Mungkin Ibu juga sempat bingung karena anaknya yang baru saja dengan bangga bilang sudah finis, tahu tahu mendadak rebahan di area finis sambil menahan sakit. Itu mungkin salah satu telepon paling dramatis yang pernah kami lakukan.

Di balik cerita lucu itu, ada satu pelajaran yang kubawa pulang.

 

 

Kadang kita terlalu sibuk mengejar target sampai lupa menikmati proses. Padahal justru ketika ekspektasi tidak terlalu membebani, tubuh dan pikiran bisa bekerja lebih lepas. Hari itu aku datang hanya untuk berlari. Tanpa sadar, justru itulah yang membawaku menuju personal best.

 

Terima kasih untuk setiap sesi latihan, setiap langkah yang terasa berat, setiap pagi ketika rasanya malas untuk bangun dan berlari, dan tentu saja... terima kasih juga untuk Saucony Endorphin Pro yang ternyata memang sekencang itu. Sekarang aku paham kenapa banyak orang menyebutnya sebagai "cheat code" untuk race.

 

 

BFI Run 2025 mungkin hanya satu lomba di kalender. Tapi buatku, race ini akan selalu kuingat sebagai hari ketika aku kembali percaya bahwa aku masih bisa berkembang.

Sampai bertemu di garis start berikutnya. Semoga bukan cuma mengejar personal best yang baru, tetapi juga menjadi pelari yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih menikmati setiap kilometer yang dilalui.

0 comments:

Post a Comment