Internship in Eisai Indonesia, DAMN! How Lucky I am!

For me, Internship Program in PT Eisai Indonesia by The DEC Project Managers Meeting and BELKAGA Event is a really one of my greatest experience ever. The way we meet, discuss, and initiate many ideas for better Indonesian Future in social health. By this experience I learn how to maintain a big project into local level, directly visit to the company and finalized the ideas by share and discussion with the company leader form Japan and in Indonesia, and also the project managers around the world. Thank you AIESEC! for having me in this project.

DIMAS DIAJENG JOGJA 2019

Paguyuban Dimas Diajeng Jogja adalah rumah untuk mengembangkan potensi diri, tempat di mana kami saling menerima perbedaan, mendukung satu sama lain dan mendedikasikan diri sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing untuk bersama-sama mendukung pengembangan pariwisata kota Jogja.

Gadjah Mada Menyapa: Serunya Berkeliling Sulawesi Selatan dan Menebar Semangat Kebaikan

Menjadi satu di antara segelintir anak daerah yang bisa mengenyam pendidikan di kampus besar Gadjah Mada membawa tanggungjawab tersendiri untuk berkeinginan berbagi dan menginspirasi mereka adik-adik kami yang lainnya untuk bisa bermimpi dan bercita-cita setinggi-tingginya. Ini pengalaman kami berkeliling Sulawesi Selatan bersama Himpunan Mahasiswa Gadjah Mada Sul-Sel dalam rangkaian Gadjah Mada Menyapa.

Gadjah Mada Muda: Petualanganku sebagai Mahasiswa UGM Berawal di Sini

Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah karena saya sadar tidak semua dari anak daerah seperti saya bisa mencicipi bangku kuliah, apalagi di salah satu kampus ternama seperti Universitas Gadjah Mada. Dengan momen berharga ini, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada untuk dapat belajar dan membangun potensi yang lebih baik lagi serta menebarkan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan melalui dedikasi dan semangat untuk mengabdikan diri. Inilah awal kisahku, Gadjah Mada Muda 2014

MUN: Pengalaman Merepresentasikan Negara di Simulasi Forum PBB

Simulasi Sidang PBB atau Model of United Nations adalah salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat dalam mengasah keterampilan dan kapasitas dalam bernogosiasi, berdiskusi dan beradu argumen untuk lebih peka dan peduli pada isu-isu internasional. Simak bagaimana saya mengikuti Padjadjaran Model United Nations, dan dapatkan tips-trik bagi kamu yang mau mengenal dunia MUN di sini.

Showing posts with label Dimas Diajeng. Show all posts
Showing posts with label Dimas Diajeng. Show all posts

August 19, 2023

Puisi: Senyum Senja

 

Remang lampu temaram 

Angin lembut berlalu menyambut malam

Kehendak tak bisa kuungkap walau sekadar menitip salam

Aku kembali di tempat kita dulu banyak tawa terekam


Apapun jadinya kini kita berdua tak terjalin

Kumengalah meski rupanya berat menahan ingin

Ujian itu kadang terasa baru kemarin


Rindu hadirmu kala diri ini letih dan tertatih 

Ingat setiamu yang hari-hari menemani 

Nyaman hangat bak senja sayup-sayup mentari 

Dan dekap delam rembulan yang iba merestui

Ungkapan maaf semoga suatu saat mendapat abadi


Hanya dengan kisah kita belajar memahami

Ulang tahunmu mungkin bertambah satu lagi

Harap-harap kosong yang kini menghampiri

Ucapan dan doa-doa sembari sampai menemani

December 29, 2019

Backpacker Trip ke Jogja

Hola!

Tiga hari yang lalu tepatnya tanggal 25 Desember 2019, gue baru aja balik dari trip super singkat ke Jogjakarta. Setelah kurang lebih dua bulan lamanya berjibaku di dunia ibu kota dan segala hingar bingar kapitalis di dalamnya, rasanya kerinduan terhadap kota Jogja yang sederhana nan istimewa sudah tidak bisa terbendung lagi. 

Rasa kerinduan terhadap kota Jogja dan warna-warni yang ada di dalamnya, kebetulan tepat sekali dengan momentum hari libur bersama pada Selasa dan Rabu kemarin, tepatnya sebagai hari raya Natal bagi teman-teman kristiani yang merayakan. Biasanya di libur besar seperti ini, di Jogja sendiri pasti semua kalangan rame-rame berbenah dan mempersiapkan diri untuk menyambut para pelancong yang akan datang dan menikmati liburan di kota Jogja. 

Nah kebetulan banget karena dari Dinas Pariwisata Kota Jogja kembali melibatkan kami di Dimas Diajeng Jogja untuk berpartisipasi dalam penyediaan Tourist Information Service (TIS). TIS ini merupakan sebuah pusat pelayanan informasi bagi turis yang berkunjung ke Kota Jogja yang berpusat di Posko Malioboro Mall, Jalan Malioboro. Tidak mau ketinggalan, momentum libur dua hari kemarin akhirnya gue manfaatin untuk balik ke Jogja biar bisa kembali ikut dengan aktivitas-aktivitas seru dari Dimas Diajeng di Jogja, sekaligus bisa temu kangen dengan teman-teman dan harapannya bisa menyempatkan berbagai makanan khas Jogja yang sudah sangat gue rindukan. 

Penjelajahan Perdana dengan BUS

Di hari Senin sore adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Senin tanggal 22 Desember 2019 ini adalah jadwal keberangkatan gue buat perjalanan liburan ke kota Jogja. Kalau biasanya gue berangkat ke Jogja dengan kereta api atau pesawat, kali ini gue nyobain buat berangkat dengan menggunakan moda transportasi bus antar kota. Bus Jakarta-Jogja yang bakal gue pakai buat berangkat dan juga balik ke jakarta ini gue pesen dari aplikasi tiket travel andalan gue, Traveloka. 

Etiket di traveloka sendiri sudah gue pesan sejak sekitar seminggu sebelumnya. Selain karena harga tiket kereta dan pesawat buat berangkat ke Jogja di momen hari libur natal dan tahun baru ini udah mahalnya kebangetan, gue akhirnya memilih bus dengan alasan bisa menikmati perjalanan ke Jogja dengan sensasi yang berbeda dari biasanya. Jujur gue sangat excited banget buat nyobain naik bus ini karena benar-benar belum pernah sama sekali nyobain naik bus buat berangkat dari Jakarta ke Jogja. 

Di Traveloka, selain pesawat dan kereta ternyata pilihan busnya ada banyak banget. Karena mengingat di hari Senin gue masih ngantor, maka akhirnya dari sederetan nama agen dan jadwal keberangkatan bus dan travel yang ada di sana,  pilihan gue buat keberangkatan jatuh pada Bus Sumber Alam.  Pilihan ini memang sebenarnya murni karena pertimbangan jadwal keberangkatannya dia yang bisa paling malem, sekitar jam 20.00 WIB. Jadi bayangan gue, gue bisa aman buat menyesuaikan dengan jam balik kantor dan ga harus buru-buru banget buat balik dari kantor di hari Seninnya.

Keberangkatan bersama Rintik Senja

Nah di hari Senin tanggal 23 Desember kemarin, tibalah hari keberangkatan gue ke Jogja. All is well sih sebenernya: gue masuk kantor normal seperti biasa dari pagi, sampai tiba-tiba di sekitar jam empat sore langit keliatan mulai rada kelabu. Cuaca mendung kaya gini bikin gue tiba-tiba gelisah karena takutnya bakalan hujan dan jadi penghambat perjalanan gue buat ke Pool Sumber Alam tempat gue bakalan berangkat. Pool ini sendiri soalnya berlokasi di Jalan Poros daerah Pondok Ungu, Bekasi. Perjalanan panjang buat ke Bekasi ini yang bikin gue akhirnya nekat pamit buat balik di jam setengah lima sore ke atasan biar bisa berangkat lebih cepet dan ga harapannya ga sampai terjebak kehujanan di jalan. 

Gue berangkat dari kosan sekitar jam lima-an sore dengan aplikasi Gojek. Belom jauh dari kosan, gue dan abang gojeknya udah mulai kena terpaan gerimis kecil di jalan. Dan ternyata pelan-pelan semakin ngelanjutin perjalanan, hujan yang turun juga malah makin gede. Sampai ga terasa kita udah separuh perjalanan dan separuh pakaian yang menempel di badan juga udah basah kehujanan. 

Si Gojeknya akhirnya nanya gimana mau berhenti apa lanjut aja. "Lanjut aja gimana bang?' kata si Farhan, driver gojek yang nganterin gue menuju Pondok Ungu Bekasi ini. Karena udah nanggung dan kepalang basah juga akhirnya yaudah gue konfirm kedia buat lanjut trabas aja. Dia sendiri ga masalah katanya, soalnya ini juga tutup poin buat trip terakhir hari ini. Jadilah kita lanjut dan ngadepin hujan yang udah gede banget di tengah perjalanan. Untung dia pake motor Satria, bentuknya agak tinggi jadi pas sesekali dapet lubang di jalan, ga sampe nyangkut dalam banget di lubang-lubang jalanan yang tertutup keruhnya genangan air hujan. Kebayang kalo ojeknya motor matic sepertinya gue juga ga berani buat lanjut dan senekat itu. 

Posisi ransel, celana dan sepatu gue sudah mulai basah. Untungnya baju dan kemeja yang gue pake masih bisa kelindung dikit sama jaket gojeknya bang Farhan yang nutupin dari depan. Hujan makin gede, sementara jalanan poros Bekasi ikutan macet parah karena banyak mobil-mobil kontainer yang jalan menuju keluar kota. Selain itu juga jalanan rasanya sesak banget dengan motor-motor dan mobil di jam pulang kantor. Ga sampe di situ, kondisi jalanan macet dan hujan gede ini makin diperparah dengan ruas jalanan yang makin dipersempit karena proyek-proyek perbaikan jalan yang sedang dikebut akhir tahun. Ini mah pokoknya bukan perjalanan yang ditemani rintik senja lagi. Badai di tengah jalanan super macet meen!

Untungnya dari awal gue udah mindset buat trip kali ini bener-bener siap, pengen kalau bisa ala backpacker senatural mungkin. Jadinya, kondisi jalan yang udah amburadul banget kaya gini bahkan gue bersama bawaan tas ransel di punggung masih bisa senyum-senyum sendiri, tarik napas dan menikmati setiap tetes hujan yang tumpah ke badan gue. Anggep aja lagi maen mandi hujan. Udah lama banget ga ngerasain senengnya main mandi hujan kaya gini lagi.😁 

 Sekitar hampir sejam gue hujan-hujanan di jalan bareng bang Farhan dan akhirnya gue tiba di pool Sumber Alam sekitar jam setengah tujuh malam. Posisi udah basah kuyup semua pokoknya. Pas turun langsung aja ganti baju dengan satu-satunya kaos yang ada di ransel gue yang untungnya belom kena basah. Sialnya sempak yang ketaruh di bagian paling bawah udah jadi tumbal basah total. Selain kaos, di tas gue cuma tinggal ada celana pendek yang bisa gue pake. Bermodal Alfamart seberang jalan, daleman sempak akhirnya bisa segera dibackup dan sepatu gue akhirnya bisa digantikan dengan sendal jepit Swallow. 

Suasana menunggu bus di Pool Sumber Alam Pondok Ungu
Setelah merasa kering dan pakaian aman, gue masuk ke bagian registrasi buat cek in etiket Traveloka yang ada di hape gue. Dari segi kemudahan, Traveloka emang juara sih. Dari pengalaman gue dengan Traveloka sejak empat tahun yang lalu selalu mudah buat ngurus-ngurus tiket kalau lagi perjalanan. Meskipun untuk bus, memang tiketnya ini masih harus ditukarkan di tempat pool sesuai dengan keterangan di aplikasi jadi gabisa sembarangan naik pool atau perwakilan bus. Yaa, asal semuanya sesuai sama aturan main, masih terbilang gampang dan cepet banget sih buat pengurusan tiketnya. 

Banner di depan loket registrasi bus Sumber Alam Pondok Ungu: Traveloka, mitra resmi untuk pesan tiket online 

Perjalanan Menuju Jogja 

Ga lama setelah duduk ngopi di depan pool sambil ngobrol sama seorang bapak yang juga bakalan berangkat ke Jogja, akhirnya bis yang akan kami tumpangi datang. Sekitar jam delapan seperempat gue naik ke bis dan ternyata gue dapet seat nomor 1. 

Tiket bis yang gue dapat setelah cek in di loket registrasi 

Sialnya lagi itu bisnya yang non AC, dan baru nyadar setelah ngecek lagi tiket busnya. Pas duduk di seat nomor 1 ini, setetes demi setetes air menetes dari langit-langit. Fix bocor kata gue. Akhirnya ngadu ke bapak kondekturnya tapi sayangnya gue cuman ditenangin dengan mantra "Gapapa mas, itu kalau udah jalan bakalan kering kok". Buset gue ga kebayang dipikirnya tetes-tetesan itu ga banyak apa pak. Yakali gue mau showeran 12 jam sampe tiba di Jogja 😩(cry).

Pas petugas administrasinya masuk buat ngecekin penumpang, selepas ngitungin dan absen satu-satu akhirnya dia selintas berdialog sama bapak kondektur tepat di depan gue. Ngomongnya dengan bahasa jawa, kurang lebih bilangnya gini: "masih ada satu lagi penumpang yang belom datang, itu dari pesenan online, udah karena telat banget tinggal aja." 

Untung banget modal hidup di Jogja lima tahun, gue paham nih maksud mas admin ini. Gue langsung nyahut ke bapak kondektur selepas mas adminnya pergi,

 "Permisi pak, saya tolong dituker ke belakang aja di tempat yang kosong yang barusan mas tadi bilang." 

"Heh emang di mana yang kosong?" kata si bapak. 

Lah gatau aja dia kalo lagi ngadepin mas-mas Dimas Jogja yang meskipun tampang ga jawa banget ini tapi masih bisa lah ngerti percakapan singkat kaya tadi. 

Akhirnya gue coba sampaikan baik-baik kalo dari penyampaian mas admin tadi masih ada satu kursi di belakang yang kosong. Bapaknya akhirnya kecolongan sendiri dan bersedia nganterin ke belakang buat nyari kursi yang kosong. Dan ternyata kursi kosong yang dimaksud adalah kursi barisan yang paling belakang. Spacenya lumayan gede, dan di sana sudah ada dua anak muda kira-kira ya seumuran lah, dan seorang bapak-bapak paruh baya. 

Berangkatlah gue di seat paling belakang bersama rombongan dalam bus PATAS NON AC Sumber Alam ini menuju kota Jogjakarta~

Suasana bus dengan lampu redup berangkat menuju Jogja. (Sumber dari instastory Imam di @rheefaii)

Sepanjang perjalanan gue dan bapak mulai asik ngobrol soal banyak hal tentang pengalaman dan perjalanan hidup beliau. Sama dua anak mahasiswa yang akhirnya gue tahu namanya Imam dan Agus di sampingnya, juga asik sesekali dengerin curhatan mereka mulai dari gimana mereka pertama kali pesen bus di traveloka sampai soal harga makanan di resto rest area yang kebangetan. 

Anak bapak yang gue temenin ngobrol juga ternyata duduk sama kakak perempuannya di kursi sebelah kanan depan. Si bocah dari awal perjalanan, ketika gue asik ngobrol sama bapaknya, dia juga ga berhenti ngelirik ke belakang. Ekspresi dia juga pengen banget nimbrung keliatan banget. Sampai akhirnya gue ajak duduk sebelah gue dan akhirnya dia mau temenan😅. 

Suasana bis keluar di pintu tol Palimanan 

Soal bis ini sendiri, ya dari segi harga mungkin memang murah sih ya. 125.000 Rupiah udah bisa berangkat sampe Jogja. Meskipun Non AC, tapi ternyata kalau perjalanan malam kaya gini ya ga masalah soalnya angin dari jendela juga udah lumayan dingin dan ga kerasa penat sama sekali. Plusnya juga, buat yang ngerokok pasti makin tambah cocok karena di belakang bisa ngerokok tanpa ada yang merasa terganggu. Untuk perjalanan backpackeran, bisa lah. Cuman buat kalian yang pengen perjalanan senyaman kereta eksekutif ya sepertinya barangkali emang belom seleranya buat pakai bis ini. 

Selama perjalanan, kita ngelewatin jalur tol Cikopo-Palimanan. Di tengah perjalanan sempat singgah di rest area yang memang tempat untuk semua bis-bis menurunkan penumpangnya buat istirahat sejenak. Di Rest Area sendiri suasananya rame banget. Semua bus-bus lintas kota pulau Jawa sepertinya memang singgah di tempat ini. Harga makanannya untuk mie ramen sekitar 15.000 rupiah. sementaran untuk makanan prasmanan ditarif 20.000 untuk nasi telor per porsinya. Dari daftar harganya sebenarnya lumayan murah. Cuman dari curhatan Si Agus setelah naik lagi dari rest area ini, dia bayar sampe seratus ribu buat berdua untuk menu rendang yang dia ambil di prasmanan. Jadi ya mungkin hati-hati aja pilih menunya di sini.




Suasana resto di Rest Area Tol Cikopo-Cipali 

Ga sampe 12 jam perjalanan, jam 8 pagi bis kita udah masuk di Ringroad Selatan Kota Jogja. Kaget juga ternyata bisa jauh lebih cepat, soalnya kalau dari aplikasi Traveloka malah harusnya tiba lebih siang lagi jam sebelas. Setibanya gue di Terminal Giwangan, Ringroad Selatan, Kota Jogja ini, gue langsung melanjutkan perjalanan menuju kosan yang gue tempatin selama kuliah di Jogja. 

Petualangan Singkat di Jogja 

Bermodal saldo flazz BCA tiga ribu rupiah, kita sudah bisa masuk ke dalam halte bis Trans Jogja dan menikmati perjalanan angkutan transportasi umum modern ini. Untuk rutenya sendiri gue pake jalur koridor 4B yang melayani Terminal Giwangan-Fakultas Kedokteran UGM. 

Bukti bayar karcis bus Trans Jogja 
Suasana di dalam bus Trans Jogja 
Setibanya di Jogja, gue langsung disambut antusias. Thanks to Rewa yang udah bela-belain jemput di RS Sardjito dan nganter ke londrian buat cuci kilat satu stel pakaian di backpack gue beserta sepatu yang udah basah kuyup. 

Setelah berkeringat bersama debu buat sedikit ngerombak dan pilah-pilih barang yang masih tersisa di Jogja buat dibawa ke Jakarta, akhirnya setidaknya lima-enam jam pertama gue dihabiskan buat bercengkrama melepas kangen dengan Rewa dan Aci. Mereka berdua ini adalah sebagian kecil sahabat dekat yang  tersisa di Jogja di kawanan HIMAGAMA SULSEL yang bahkan sudah berkawan sejak lama semasa kuliah. 

Tengil alay di tengah kemacetan Jalan Adisucipto menuju bandara 
Kebetulan Rewa bakalan berangkat buat balik ke Makassar di hari itu juga. Jadi setelah jemput di RS Sardjito, akhirnya gue temenin buat belanja pernak-pernik buat kepulangan dia di sore harinya. Kita juga sempat makan siang bareng di Dirty Chicks bareng Aci dan Dzul. Sayangnya Dzul masih masuk kerja dan rada sakit jadi gabisa join buat ke bandara. Sekitar jam tiga sore kita berangkat dari Kompleks Pogung menuju Bandara Adisucipto. 

Perjalanan menuju bandara ini juga sempat menegangkan. Aci sampe mual pusing karena nyetir ugal-ugalan gue yang ikutan ketularan panik. Pesawat Rewa berangkat sekitar jam 15:30 sore, sementara jam tiga kita masih terjebak macet di jalan Ringroad Utara. Untungnya setelah kebut-kebutan ngelewatin jalan Adisucipto yang tidak terlalu macet, kita bisa tiba tepat waktu.

Hari Kedua di Jogja

Hari kedua gue di Jogja bertepatan di tanggal 25 Desember, hari libur puncak perayaan natal. Suasana Jogja khususnya Malioboro sudah tampak ramai bahkan sejak pagi hari. Sepertinya Jogja sebagai destinasi wisata favorit masyarakat masih belum terpatahkan. Ga heran sih, soalnya selain sebagai pusat kebudayaan Jawa yang sangat melegenda dari generasi ke generasi, Kota Jogja memang patut untuk menjadi destinasi favorit bagi banyak wisatawan baik dari dalam negeri sampai turis-turis asing karena banyak inovasi yang atraksi pariwisata yang selalu baru dan tidak henti-hentinya berinovasi. Orang-orang Jogja juga dikenal sangat kreatif sehingga kunjungan wisata menjadi lebih bermakna dengan banyaknya kreasi kerajinan tangan, desain pakaian seperti kaos, batik dan pernak pernik aksesoris, sampai beraneka macam kuliner yang siap dijelajahi dan juga sekaligus sebagai oleh-oleh sepulang berwisata. 

Dari pihak pemerintah sendiri, potensi pariwisata yang besar ini memang mendapat perhatian yang sudah cukup serius. Sebagai bagian dari Dimas Diajeng Kota Jogja, aktivitas pengelolaan hingga pelestarian pengembangan sektor-sektor pariwisata di kota Jogja benar-benar terasa mendapat porsi perhatian yang besar. Sederetan kegiatan kami di Dimas Diajeng tidak henti-hentinya dilibatkan untuk berbagai event mulai dari seminar, workshop, festival hingga karnaval sepanjang tahun terus menerus berjalan seakan tak ada habis-habisnya sebagai sajian atraksi pariwisata yang wajib dikenang bagi setiap wisatawan yang datang ke kota ini. 

Di Jalan Malioboro sendiri, dikenal sebagai salah satu pusat ikon pariwisata kota Jogja. Hampir setiap wisatawan yang berkunjung ke kota ini pasti akan singgah di Malioboro. Melalui layanan TIS (Tourist Information Service), pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Pariwisata berupaya benar-benar hadir di tengah masyarakat khususnya para wisatawan untuk dapat menyediakan informasi bagi para turis yang membutuhkan. 

Buku dan pamflet yang disediakan di Posko TIS Malioboro Jogja untuk membantu perjalanan wisata di Jogjakarta

Dalam pelayanan pusat informasi wisatawan TIS ini, saya mendapat jadwal bersama bapak Rahman. Beliau sehari-harinya bekerja sebagai pemandu wisata yang juga menjadi salah satu pengurus dalam organisasi pemandu wisata se-Jogjakarta. Di posko ini, Dinas Pariwisata juga menyediakan fasilitas berupa informasi pariwisata dalam bentuk buku dan peta yang dapat diperoleh para wisatawan secara cuma-cuma. Setiap Pemandu wisata dan Dimas-Diajeng yang dilibatkan sebagai penjaga posko seperti Saya dan Bapak Rahman di sini juga senantiasa siap untuk memberikan informasi seputaran wisata Jogja bagi para wisatawan yang merasa kebingungan dan membutuhkan informasi. 

Potret saya bersama bapak Rahman dalam pelayanan posko Tourist Information Service (TIS) Kota Jogja 

Kebanyakan informasi yang ditanyakan oleh para wisatawan tak jauh seputar obyek-obyek wisata unggulan seperti Candi Borobudur, Tebing Breksi, Prambanan, Gereja Ayam, dan Kraton. Selain itu juga beberapa menanyakan pusat belanja oleh-oleh seperti Bakpia dan Kaos serta fasilitas-fasilitas umum seperti toilet dan ATM.

Di hari kedua gue di Jogja ini juga diisi dengan temu kangen dengan Raka, salah satu teman dekat sejak jaman kuliah. Sampai sekarang Raka masih berkedudukan di Jogja karena selain masih menyelesaikan skripsi, juga merangkap sebagai kuncen Duta Besar Berkuasa Penuh Kerajaan Kuningan untuk Kesultanan Yogyakarta. Kita doakan saja semoga mahasiswa semester (sangat) tua ini bisa segera menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa dan bisa menghasilkan uang yang banyak untuk meminang calon pendamping hidupnya kelak. 😂😭✌

Pertemuan eksklusif dengan Raka setelah sekian abad lamanya tak bersua 

Kembali ke Jakarta 

 Di jam enam sore hari Rabu, 25 Desember 2019 ini juga gue akhirnya harus kembali melanjutkan tanggungjawab dan kehidupan pekerja di ibukota. Perjalanan balik ke Jakarta gue juga naik bis, tapi kali ini dengan agen travel Day Trans.

Jam 5 sore sudah tiba di kantor perwakilan Day Trans buat cek in 
Jam 5 sore siap menunggu bus Travel Day Trans untuk keberangkatan jam 6 sore. 
Suasana teras gedung perwakilan Day Trans di Jalan MT Haryono, Jogja 

Untuk perjalanan bersama Day Trans kali ini dari segi kenyamanan jauh lebih baik dari bus yang gue pake sebelumnya pas berangkat. Untuk harga 195.000 rupiah, bus travel Day Trans ini mengantarkan kita ke Jakarta melalui jalur tol Semarang. di Semarang sempet buat singgah sejenak untuk mengambil penumpang di perwakilan Day Trans Semarang, dan selebihnya perjalanan lancar hingga tiba kembali di Jakarta. Bersama rombongan bus, kami tiba di Day Trans SPBU Tebet sekitar jam 5 pagi dan akhirnya bisa melanjutkan rutinitas hari kerja berikutnya di hari Kamis, 26 Desember 2019.




Yaah akhirnyaa..

Itu dia cerita liburan gue yang super singkat selama dua hari satu malam di kota Jogja. Harusnya kalau gue berangkat di hari Jumat, cukup lumayan buat durasi liburan ini yang bisa sampai lima hari. Sayangnya, karena alasan hari Senin yang ga bisa gue ambil cuti di kantor maka jadilah gue harus menerima keadaan buat maksimalin dua hari yang ada buat kesempatan mengisi TIS di Malioboro sekaligus jalan-jalan dan temu kangen dengan sahabat-sahabat di Jogja yang super sangat singkat. Ya tapi meskipun singkat, rasanya liburan kali ini gue merasa bener-bener menikmati dan rangkaian aktivitas yang jadi super padat dan berkesan.

Semoga segera di kesempatan selanjutnya bisa kembali berlibur ke Jogja dan menikmati kota Jogja jauh lebih puas dan lebih lama dari dua hari yang berkesan ini.


See you till the next trip✋😊

September 10, 2019

Pak Pur, Hero dari Warung Boto


Pagi ini kaki masih pegal sisa kegiatan kemarin bertajuk Festival Kampung Wisata 2019.  Kegiatan ini adalah salah satu event persembahan Dinas Pariwisata Kota Jogja untuk mempertemukan kampung-kampung wisata yang ada di Jogja untuk dapat memamerkan kekayaan budaya dan atraksi pariwisata yang ada di kampungnya masing-masing. Selain itu, momentum ini juga menjadi ajang baik bagi para pegiat kampung wisata untuk membangun forum komunikasi satu sama lain dengan para pengelola dari kampung wisata lain agar bisa bertukar gagasan dan bersinergi membangun daya tarik pariwisata kota Jogja menjadi baik dan lebih baik lagi.

 Sebagai organisasi di bawah naungan Dinas Pariwisata, Paguyuban Dimas Diajeng Kota Jogja menjadi salah satu garda dalam merealisasikan kegiatan ini bersama dengan tim panitia lainnya. Kami dari Dimas-Diajeng kemudian diamanahkan untuk bertugas sebagai LO pendamping para perwakilan kampung-kampung wisata selama kegiatan berlangsung. Adalah Pak Purnomo, salah seorang pegiat kampung wisata yang berasal dari Kampung Wisata Warung Boto. Pesan singkat melalui whatsapp dua malam sebelum kegiatan menjadi awal komunikasiku dengan beliau. Tidak banyak, malam itu pesan singkat yang aku kirimkan untuk memperkenalkan diri sekaligus memastikan persiapan festival dari kampung yang dikelola beliau.

Mendampingi Warung Boto
Dalam rangkaian kegiatan ini aku kebagian membantu komunikasi panitia dengan perwakilan kampung wisata sebagai LO dengan kampung wisata Warung Boto. Selain Warung Boto, ada 15 kampung wisata lainnya yang turut menyemarakkan festival ini. Dan teman-teman dari paguyuban Dimas-Diajeng lainnya tersebar membantu komunikasi panitia dengan kampung-kampung wisata itu.

Aku berterima kasih kepada Dimas Yosa (Dimas 2019) soal hal ini. Sebelumnya aku ditugaskan untuk menjadi LO kepada satu kampung wisata, Dipowinatan. Namun karena susunan acara yang dirancang oleh panitia Dinas Pariwisata menunjuk kampung Dipowinatan unjuk aksi pada hari pertama kegiatan, kira-kira sore hari jam empat. Aku mulai khawatir. Karena di jam yang sama bertepatan dengan agenda pribadi yang sudah kujadwalkan sebelumnya. Kegiatan di luar kota yang kubayangkan mungkin juga akan selesai sore hari pukul empat. Tidak mungkin memaksakan keduanya kuhadapi bersamaan.

Mengadu. Akhirnya akupun memberanikan diri mengadu ke panitia acara dari Dinas Pariwisata.  Mencoba menawarkan untuk bertukar posisi agar bisa bertugas di hari kedua acara. Dan saat itu sudah kusiapkan obrolan lobi pribadi dengan Yosa untuk bertukar posisi. Yosa sendiri adalah salah satu sahabat dekat di Dimas Diajeng selama proses karantina, yang dititahkan dalam sebuah file excel berisi susunan acara dan pembagian posisi panitia untuk menjadi sang LO kampung wisata Warung Boto. Kebetulan dalam susunan rundown itu, Kampung Wisata Warung Boto kebagian hari kedua. Yess. Setelah kudiskusikan dengan Ibu Septi (Mba Septi, pegawai dinas yang mengatur rundown dan pembagian job desc panitia), dia mengizinkan. Keberuntungan masih berpihak, dua acara yang kuagendakan ini bisa kuikuti tanpa harus saling mengganggu.

"Akan kami usahakan.."
Setelah memastikan pertukaran kami berdua terkonfirmasi, aku dan Yosa bertukar nomor kontak perwakilan kampung wisata. Dan saat itulah saya pertama kali berinteraksi dengan Pak Pur. Dari pembawaannya melalui pesan singkat, Pak Purnomo adalah orang yang bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi. Tercermin dari proses komunikasi yang bisa cepat tanggap direspon oleh beliau, termasuk dengan pergeseran panitia LO dari Yosa ke Aku yan bukan jadi sebuah persoalan bagi beliau. Semua persiapan selalu terkonfirmasi dan selalu dengan kata kunci "akan kami usahakan". Aku menangkap energi positif. Persiapan akhirnya kuanggap aman. Sampai tiba-tiba di pagi hari persiapan hari kedua festival kami panitia berkumpul. Dan kejutan dimulai. Ternyata ada perubahan waktu dalam susunan acara hari kedua. Semua rangkaian acara dimulai lebih awal sekitar 45 menit.

Segera langsung kudatangi tenda kampung wisata Warung Boto untuk menemui pak Purnomo. Pak Pur tidak bisa diminta tampil lebih awal pada jam setengah lima sore. Patokannya dengan anak-anak yang Ia bawa adalah waktu solat magrib. Mereka akan tampil setelah magrib. Ada sekitar 20 anak yang harus didandani dan tidak mungkin diminta lebih cepat 45 menit. Alasannya tidak bisa kubantahkan. "Tapi akan coba kami usahakan, jam 5 ada di lokasi." Sebuah pengharapan untuk membuatku tenang. Aku kembali ke tenda panitia membawa kabar dengan perasaan yang masih dengan keraguan.

Dimas Krisna (senior Dimas Diajeng 2011) yang bertugas sebagai menejer panggung lepas tangan, minta semuanya keep on schedule sesuai yang dia pegang. Asem. Mas Krisna ternyata serius juga ya kalau megang acara.

Dan membayangkan Pak Pur dengan 20 orang pasukan yang harus didandani, rasanya pengharapan untuk tiba di lokasi jam 5 terlalu dipaksakan.

 Satu-satunya jalan yang bisa kulakukan adalah menemui langsung Pak Wawan (yang lebih sering kami panggil Mas), Kasi Dinas Pariwisata sebagai komandan lapangan acara ini, meminta kebijaksanaan pergeseran waktu.
Pak Purnomo, Aktivis Kampung Wisata Warung Boto (Credit: Facebook Pak Pur )

Atraksi!

Jam dua siang, acara atraksi penampilan pasukan kampung atau "bregodo" akan menjadi pembuka acara hari kedua. Atraksi seni pasukan kampung pada hari kedua ini dimeriahkan oleh 10 kampung wisata yang tersisa, setelah sebelumnya di hari pertama telah tampil 6 kampung. Perlahan para peserta atraksi Bregodo meramaikan XT Square Jogja yang menjadi tempat perhelatan acara ini. Kami para LO pun menyebar menemui masing-masing kampung wisata yang akan kami dampingi.

Kostum Bregodo Kampung Wirobroto
Di belakang panggung kutemui remaja-remaja tanggung lengkap dengan kostum prajurit tradisional dan tombak. Mereka akan membawa nama kampung mereka, Warung Boto dalam atraksi Bregodo ini. Kulihat tidak ada ekspresi takut, malu, atau demam panggung di wajah mereka. Padahal mereka berada di tengah pasukan bregodo kampung-kampung lainnya yang justru kebanyakan orang dewasa dan bahkan sudah tua.

Tidak lama, kulihat Pak Pur mendatangi. Bajunya sudah berganti dengan kaos polo biru muda bertuliskan Warung Boto, mempertegas posisinya sebagai kru ofisial. Kusalami beliau dan mengajukan lembaran absensi untuk memastikan pasukannya sudah lengkap dan siap. Dengan sigap pak Pur mengomandoi sendiri anak-anak pasukannya. Sembari persiapan di jalur yang sudah ditentukan, anak-anak ini saling berdiskusi mandiri memastikan tidak ada koordinasi yang keliru di antara mereka. Dan Pak Pur membersamai, sesekali membetulkan sikap atau menunjukkan arahan gerak dan pola posisi yang pas. Meskipun sendirian, Pak Pur percaya diri dan fokus mempersiapkan penampilan anak-anak remaja yang dibawanya.

Pasukan Bregodo Wirotirtobroto, dengan Pak Pur di Kiri
Brogodo penampil kedua. Setelah pasukan pertama tampil dengan kostum serba ungu, saatnya aku dengan papan yang kupegang bertuliskan Warung Boto maju menunjukkan pasukan bregodo akan memasuki area atraksi. Laskar bregodo dari Warung Boto ini diberi nama "Wirotirtobroto". Dengan iringan gamelan dan suara khas tradisional jawa yang juga dimainkan langsung oleh mereka, perlahan mereka bergerak memasuki pelataran halaman utara XT Square tempat yang disiapkan untuk pasukan menunjukkan atraksi bregodonya.

Dengan semangat mereka menampilkan sebuah atraksi tarian dan pertunjukan adu senjata. sekitar 10 menit dan akhirnya penampilan mereka kemudian dilanjutkan dengan atraksi kampung wisata selanjutnya. Di belakang kutemui pak Pur lagi dan mencoba memastikan pentas seni yang akan ditampilkan agar bisa hadir di lokasi jam lima sore. Pak Pur meragu. Ternyata yang akan membawakan penampilan seni adalah mereka anak-anak yang sama ditugaskan untuk bregodo yang baru saja selesai tampil. Mereka baru mau kembali ke basecamp mereka untuk didandani.

Dua jam berselang sampai 9 pasukan bregodo akhirnya selesai menampilkan atraksinya yang sangat unik-unik dan bermacam-macam kreasi. Pesan masuk dari tim stage manager menanyakan kesiapan penampil dari Warung Boto. Dalam hati aku sudah pesimis, kusampaikan mereka berusaha datang jam 5 sesuai pengharapan Pak Pur.

Pertunjukan Seni: Abis Magrib 
jam menunjukkan pukul 16: 30 dan sepuluh pasukan bregodo dari kampung wisatanya masing-masing telah selesai tampil di hadapan pengunjung festival dan juri. Susunan acara yang dipandu Dimas Aga (Dimas 2011) dan Diajeng Thea (2019) berjalan sesuai rundown tepat waktu dan sekarang mulai bergeser ke atraksi pertunjukan seni. Kampung Wisata Tahunan yang bertugas sebagai penampil pertama sudah siap untuk tampil, sementara belum ada kabar lagi dari Pak Pur untuk Warung Boto yang akan tampil sesudahnya.

Setelah mengirimkan pesan wa beberapa kali ke Pak Pur, kudatangi tenda stand Warung Boto dan bertemu degan seorang ibu-ibu yang juga mengenakan baju yang sama dengan Pak Pur. Kusampaikan bahwa penampil selanjutnya adalah Warung Boto, dan meminta bantuan untuk mengontak adik-adik yang akan tampil. Kutelpon langsung nomor Pak Pur, tapi sepertinya Pak Pur di tengah-tengah persiapan anak-anaknya yang sedang dandan. Penampilan seni pertama berlangsung, dan kru stage manager bergantian menanyakan kabar Warung Boto. Ingin menjawab "Warung Boto baik-baik saja" tapi sepertinya bukan ini yang mereka mau :)

"Pak Pur, penampilan seni yang pertama sudah mulai pak. Ditunggu di barat panggung adek-adek reognya ya pak.."

Kru panggung akhirnya menanyakan kehadiran penampil seni dari kampung wisata lainnya, melihat apakah ada yang bisa dimajukan supaya waktu luang sebelum magrib masih bisa terisi dengan satu penampilan seni sebelum jeda. Perhitungan waktu akan molor sampai jam sebelas malam kalau atraksi seni lainnya yang tersisa dimulai setelah magrib jam 17:45.

Tapi akhirnya memang ternyata tidak ada yang bisa 😅😅

Sepertinya tinggal mengandalkan Warung Boto. Aku jadi panik sendiri. Setelah penampilan seni pertama selesai, suasana festival menjadi kosong sekitar 45 menit dan yang dilakukan panitia-panitia adalah foto bersama. Di tengah hape lowbat 1% dan powerbank pinjaman dari Dimas Riyan (Dimas 2019), aku berpose bersama yang lain sambil hape yang gabisa lepas buat mengikuti perkembangan keberadaan adik-adik Warung Boto. Dan Pak Pur tentunya.

Pesan singkat dari pak Pur masuk.

"ttp habis maghrib. sesuai rundown yg sy trima dr awal" Sepertinya Pak Pur benar-benar hectic dan menyerah dengan kengototan panitia 😔

Akhirnya diputuskan pertunjukan seni dilanjutkan setelah magrib: jam 18:00.

Kukirimkan pesan singkat terakhir ke Pak Pur: "Update infoo pak Pur: Njeh, pentas seninya abis magrib njeh pak. Jam 18:00 langsung tampil."

Juaraa!!
Jam menunjukkan pukul 18:05, dan panitia kembali di posisi untuk persiapan untuk melanjutkan acara. Akhirnya adik-adik yang tadi bertugas sebagai bregodo sudah mulai berdatangan kembali dengan wajah masing-masing yang sudah dirias. Pengunjung semakin ramai berdatangan, dan akhirnya Dimas Aga muncul kembali ke panggung bersama Diajeng Mala (2019) yang menggantikan Thea. Menit-menit berikutnya panggung utama mulai kembali menarik perhatian pengunjung dan akhirnya penampilan pertama dari Warung Boto melanjutkan rangkaian pertunjukan seni.

Persiapan Penampilan Atraksi Seni Kampung Warung Boto 
penampilan mereka pun dimulai. Aku berdiri di sisi kiri panggung dan beberapa panitia panggung yang lewat menepuk pundakku. "akhirnyaaa.." 

Ya memang akhirnya lega, mereka tampil.

Penampilan tarian mereka akhirnya sukses berjalan lancar.

Setu persatu penampilan yang lain akhirnya mengikuti jalannya rangkaian acara sampai kesepuluhnya selesai menampilkan atraksi seninya masing-masing. Bermacam-macam atraksi seni ditampilkan, ada tari-tarian, pertunjukan drama oleh anak-anak kecil, nyanyi-nyanyian, sampai ada yang flashmob. Asik juga joged meluapkan energi haha.

Turut berbangga, kampung Wisata Warung Boto bisa berhasil meraih Juara 2 Lomba Stand Terbaik, dan Juara 2 Penampilan Atraksi Seni. Dua juara itu juga kemudian mengantarkan Warung Boto meraih gelar Kampung Wisata Terbaik II dalam gelaran Festival Kampung Wisata Kota Jogja 2019.

Suasana foto bersama Warung Boto di stand Festival Kampung Wisata Jogja 2019
Di balik prestasi Warung Boto, Mungkin tidak ada yang tahu ada cerita Pak Pur yang menjadi komandan tempur kampung membawa nama baik kampung dalam gelaran acara ini. Kegigihannya menggerakkan sumber daya yang ada di sekitarnya dan memperjuangkan nama baik kampung wisata Warung Boto cukup patut diacungi jempol.

Dengan senyum bahagia, Pak Pur naik ke panggung sebagai perwakilan menerima penghargaan Kampung Wisata Terbaik II Festival Kampung Wisata Jogja 2019.

Ketampanan pak Pur jadi dua kali lebih bersinar. Tapi mungkin tidak kalah dengan Dimas Krisna, sang stage manager yang sudah baik hati dari siang hari bikin grusak grusuk panik soal rundown, mengajarkan arti penting tanggungjawab dengan caranya sendiri 👀) (dalam hati: you know what I mean MASS!)

Dan aku ga punya dokumentasi fotonya karena di momen pengumuman dan penyerahan hadiah, hapeku akhirnya mati total setelah berwira-wiri menghubungkan panitia dan mengontak Pak Pur dengan kondisi hape dan power bank baterai low seadanya😤😤😤.

Sekali lagi, Selamat Pak Pur!

Buat teman-teman yuk ketemu langsung dengan Pak Pur dan nikmati wisata budaya dengan mengunjungi cagar budaya Warung Boto yang bagus ini 😊

Credit: panduanwisata.id

September 04, 2019

Galeri Dimas Diajeng Kota Jogja 2019




Lima tahun menempuh pendidikan dan menikmati hari-hari di kota istimewa Jogjakarta ternyata tidak terasa. Berlalunya hari-hari itu lambat laun mempertemukan saya dari satu kesempatan ke kesempatan lainnya bertemu dengan orang-orang baru dan pengalaman serta pelajaran hidup yang berkesan. Dari banyak kegiatan seperti kuliah, organisasi, konferensi, seminar, kepanitiaan sampai sesepele bertemu di jalan saat main menikmati liburan singkat, serangkaian petualangan itu membangun jejaring dengan anak-anak muda di lingkup Jogja.

Di tahun ke-lima di kota Jogja, salah satu sahabat dekat dari kepanitiaan event mengajak buat ikut bergabung dengan sebuah komunitas untuk anak-anak muda Jogja mengembangkan potensi dan passion-nya dalam aktivitas kepemudaan, pariwisata dan kebudayaan: Paguyuban Dimas Diajeng Kota Jogja. Dan ternyata memang sebagian besar teman-teman yang bergabung di dalamnya pernah kujumpai dalam acara-acara yang digelar di kota Jogja baik menjadi pendamping tamu, panitia sampai yang menjadi pembicara. Kupikir ini sebuah kesempatan berharga kalau bisa diterima dan menjadi bagian dari mereka. Perjalanan pun dimulai.



Tahapan Seleksi 
Dengan semboyan 'Muda, Dinamis, dan Berbudaya', kepribadian sebagai Dimas Kota Jogja ternyata memiliki ekspektasi dan standarnya sendiri dan oleh karena itu ternyata untuk menjadi bagian dari mereka ada prosedur seleksi yang cukup ketat yang harus dilalui. Saat itu tahapan pertama yang kami lalui adalah administrasi dan deep interview yang isinya seputar profil latar belakang, aktivitas saat ini, dan alasan mengikuti seleksi Dimas Diajeng tersebut. Tidak sampai di situ, tahapan-tahapan selanjutnya yang juga harus dilalui adalah psikotes yang terdiri dari bermacam-macam tes tentang logika, hitungan, menggambar yang kesemuanya untuk mengetahui kepribadian. Di hari yang berbeda kemudian dilakukan wawancara dengan beberapa pos berbeda dengan topiknya masing-masing; pariwisata, kebudayaan, public speaking, dan bahasa asing. Dalam proses itu sebenarnya cukup menyenangkan karena kami bisa berkenalan dengan sesama peserta satu sama lain, dan juga mendengarkan sesi sharing dari angkatan sebelumnya yang juga pernah melalui tahapan yang sama dua tahun lalu.

Setelah semua tahapan seleksi dilewati, maka akhirnya secara resmi kami dinyatakan sebagai Finalis Dimas-Diajeng Kota Jogja 2019 yang akan mengikuti rangkaian kegiatan karantina dan malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019.

Setelah penyematan selempang secara resmi sebagai Finalis Dimas-Diajeng, kami langsung memulai kegiatan pertama yaitu latihan drama berkelompok dan casting singkat untuk persiapan pertunjukan pementasan drama musikal. Tidak lupa setelah casting singkat tersebut, kamipun melalui prosesi penentuan pasangan Dimas-Diajeng yang akan menjadi pasangan kami selama proses pemilihan Dimas-Diajeng berlangsung.

Dokumentasi saat mengenakan selempang dengan pasangan diajeng, Diajeng Nina 



City Tour Mengenal Lebih Dekat Sejarah, Kebudayaan, dan Keistimewaan Jogjakarta 


City Tour Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat 

Setelah mengikuti seremonial penyematan selempang Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2019, kami menjalani satu bulan proses pengembangan diri menuju karantina. Beberapa kegiatan yang kami lakukan adalah kegiatan kunjungan city tour ke Kraton Kesultanan Ngayogyakarta, dan juga Pura Pakualaman.

Selain itu, kami juga berkesempatan mendapatkan museum tour di Gedung Agung, satu dari empat Istana Kepresidenan yang dimiliki negara, gedung megah di titik Nol Kilometer Jalan Malioboro.

Foto bersama city tour di Istana Kepresidenan Gedung Agung


Pementasan Drama Musikal
Dalam satu bulan proses kami menuju karantina, salah satu kegiatan yang menjadi wadah kami saling mengenal dan membangun kebersamaan adalah dalam mempersiapkan pementasan Drama Musikal yang diberi judul Dongeng Cinta Sekartaji. Dengan besutan naskah dan sutradara oleh Mas Shodiq Sudarti, koreografi oleh Mba Kinanti Sekar, dan komposer musik oleh mas Guntur Puspito.

Latihan Rutin Persiapan Penampilan Drama Musikal

Latihan untuk mempersiapkan penampilan ini kami lakukan hampir setiap malam sebulan sebelum karantina.


Dokumentasi pertunjukan Drama Musikal Dongeng Cinta Sekartaji 

Serangkaian kegiatan menuju karantina ini telah banyak menambah pengetahuan tentang sejarah kebudayaan Jogja dan berkesempatan untuk mendalami dan mempraktikannya secara langsung.


Karantina








Sebelum penyelenggaraan malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja digelar, kami diberikan karantina selama empat hari yang bertempat di Hotel Neo+ Yogyakarta.

Berbagai materi pelatihan diberikan mulai dari sejarah dan kebudayaan, kepariwisataan, leadership, personal branding, public speaking, team work and event organizing, dan tentunya yang tidak boleh ketinggalan materi tentang bahasa dan budaya Kraton Jogja.

Semua pelatihan yang diberikan untuk mematangkan kepribadian kami para finalis untuk siap mengemban amanah sebagai duta wisata mewakili Kota Jogja dalam masa bakti dua tahun ke depan.

Malam Puncak Pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019 




Malam puncak ini merupakan momentum yang paling ditunggu, dan jika dilihat dari persiapannya baik dari para pemateri, panitia hingga kami peserta tidak main-main.

Malam puncak pemilihan Dimas Diajeng yang kami tunggu-tunggu pun meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Di tengah keriweuhan persiapan penampilan tari-tarian dan pidato advokasi yang akan kami sampaikan, di belakang panggung tiba-tiba suasana menjadi haru biru mengenang prosesi latihan dan serangkaian kegiatan yang tidak terasa telah kami lalui bersama.

Sangat bersyukur karena semua yang kami persiapkan dapat berjalan lancar. Malam-malam kami berlatih penampilan tarian, pidato advokasi dan berbagai kegiatan diskusi yang dilalui bisa terbayarkan dengan malam puncak yang berjalan dengan maksimal. Hingga akhirnya terpilih Dimas Ryan dan Diajeng Mala yang menjadi Dimas dan Diajeng Kota Jogja terpilih tahun 2019. Tentunya rangkaian kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa kreativitas dan kerja keras yang luar biasa dari para pendahulu kami, senior-senior kami di Paguyuban Dimas Diajeng Jogja yang telah mendedikasikan semuanya secara maksimal hingga malam puncak tersebut dapat terselenggara dengan baik dan maksimal.


Representasi Anak Muda Jogja

Malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019 pada hari Minggu, 28 April 2019 tersebut bukanlah menjadi akhir dari proses kami sebagai Dimas Diajeng Kota Jogja. Setelah prosesi tersebut, perjalanan kami 30 finalis Dimas dan Diajeng menjadi duta wisata kota Jogja baru saja dimulai dan dengan masa bakti dua tahun. Cukup berbeda dengan kebanyakan duta wisata daerah lainnya yang diselenggarakan setiap tahun.

Secara pribadi, mengemban status sebagai  Dimas Kota Jogja bukanlah hal yang mudah. Ada tuntutan dan harapan-harapan yang digantungkan kepada kami untuk dapat berkontribusi dalam agenda pembangunan kota Jogja khususnya dalam sektor pariwisata dan kebudayaan. Untuk memenuhi berbagai ekspektasi itu tentu tidak mudah, tapi justru menjadi motivasi untuk mau mengembangkan diri sekaligus mendedikasikan diri dalam hal yang positif. Selain mengikuti berbagai ajang pariwisata dan kebudayaan, kami juga terus dibekali pelatihan untuk peningkatan kapasitas untuk dapat menjadi lebih baik lagi.

Dimas Diajeng Jogja adalah rumah kami untuk mengembangkan potensi diri, tempat di mana kami saling menerima perbedaan, mendukung satu sama lain dan mendedikasikan diri sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing untuk bersama-sama mendukung pengembangan pariwisata kota Jogja.

Galeri selengkapnya kegiatan kami dapat diakses di Paguyuban Dimas Diajeng Jogja