Pagi itu suasana bandara sudah ramai, bahkan sebelum matahari benar benar tinggi. Orang orang datang dengan koper, tas besar, dan wajah yang campur aduk. Ada yang terlihat lelah, ada yang santai, tapi kebanyakan punya satu ekspresi yang sama. Antusias pulang.

Aku duduk sebentar di kursi tunggu, memperhatikan sekitar. Anak kecil yang nggak sabar pengen naik pesawat, orang tua yang sibuk ngecek tiket berkali kali, sampai pasangan yang saling jagain barang sambil ketawa kecil. Bandara berubah jadi tempat penuh cerita, bukan cuma tempat transit.

Yang paling kerasa itu vibe Lebarannya. Walaupun belum sampai rumah, belum ketemu keluarga, tapi perasaan hangatnya sudah mulai terasa dari sini. Dari cara orang orang saling senyum, dari obrolan ringan yang nggak sengaja kedengeran, sampai suara pengumuman yang rasanya jadi bagian dari perjalanan pulang.

Di tengah ramai orang yang lalu lalang, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberangkatan. Semua orang seperti membawa cerita masing masing. Koper yang ditarik bukan cuma isi baju, tapi juga rindu yang sudah lama disimpan.
Bandara jadi tempat yang anehnya hangat. Di saat semua orang sibuk dengan jadwal dan gate, ada energi yang sama terasa. Energi untuk pulang. Untuk kembali ke tempat yang selalu jadi tujuan, sejauh apapun kita pergi.

Aku duduk memperhatikan sekitar. Ada yang video call keluarganya sambil bilang “sebentar lagi sampai”. Ada yang kirim pesan panjang, mungkin minta maaf sebelum benar benar bertemu. Ada juga yang diam, tapi dari wajahnya kelihatan kalau hatinya sudah lebih dulu sampai rumah.

Lebaran selalu identik dengan maaf, dengan pelukan, dengan meja makan yang penuh. Tapi di bandara, semuanya masih dalam bentuk harapan. Belum terjadi, tapi sudah terasa.
Di antara pengumuman penerbangan dan suara koper yang bergesekan, aku jadi sadar. Perjalanan ini bukan cuma soal jarak. Tapi tentang kembali menjadi versi diri yang lebih ringan.

Meninggalkan penat, membawa pulang niat baik. Mungkin itu makna kecil dari Idul Fitri yang sering kita cari. Dan di titik ini, sebelum pesawat lepas landas, semuanya terasa sederhana. Aku cuma seseorang yang sedang dalam perjalanan pulang.
Menuju rumah. Menuju maaf. Menuju awal yang baru.
Tiba di Makassar, ketemu keluarga mempersiapkan hari raya, gema takbir membangun kehangatan suasana khas lebaran. Akhirnya hari kemenangan ini kembali datang setelah sebulan lamanya berpuasa di bulan Ramadan. Hari itu syahdu, rasa syukur di hati karena masih bisa berkesempatan merayakan idul fitri kembali ke kampung halaman. Momen salat Id jadi salah satu yang paling gue nikmatin. Berdiri di antara banyak orang, pakai baju terbaik, dengan hati yang rasanya lebih ringan.

Ada rasa kebersamaan yang kuat banget, walaupun mungkin kita gak saling kenal. Tapi di momen itu, semuanya terasa dekat. Setelah itu, bagian paling hangat dimulai: saling maaf maafan. Jujur, ini selalu jadi momen yang sedikit awkward tapi juga paling jujur.

Ngeliat orang tua, salim, minta maaf, dan tanpa sadar jadi lebih emosional dari yang gue kira. Ada hal hal yang mungkin selama ini gak sempat diucapin, akhirnya keluar juga di hari itu.

Meja makan jadi pusat kebahagiaan berikutnya. Buras dan Ketupat, opor dan kari, serta segala macam hidangan yang rasanya cuma pas di hari Lebaran. Bukan cuma soal makanannya, tapi siapa yang duduk bareng di meja itu. Cerita ngalir, tawa pecah, dan waktu rasanya jalan lebih cepat dari biasanya.
Siangnya diisi dengan keliling ke rumah saudara. Dari satu rumah ke rumah lain, dengan cerita yang kurang lebih sama tapi tetap seru. Ditanya hal hal klasik, ditanya kabar, sampai ditanya hal hal yang kadang bikin senyum tipis. Tapi justru itu yang bikin Lebaran terasa lengkap.
Yang paling gue rasain tahun ini adalah Lebaran bukan cuma tentang perayaan besar, tapi tentang hal hal kecil yang sering kita anggap biasa. Duduk bareng keluarga, ngobrol tanpa distraksi, dan ngerasain hadir sepenuhnya di momen itu.

Di tengah kesibukan dan rutinitas sehari hari, Lebaran kayak jadi pengingat untuk berhenti sebentar. Untuk ingat lagi apa yang benar benar penting. Dan buat gue, itu adalah keluarga, kebersamaan, dan rasa cukup.

Lebaran tahun ini mungkin gak sempurna, tapi justru di situ letak indahnya. Karena yang dicari ternyata bukan kesempurnaan, tapi rasa pulang yang selalu berhasil kita temuin, dengan cara yang sederhana.