Hola good people!
Dulu, mimpi itu terasa jauh. Ditulis dengan tangan yang mungkin masih ragu, tapi hati yang penuh keyakinan. Tentang pencapaian, tentang perjalanan, tentang versi diri yang gue bayangin suatu hari nanti. Dan anehnya, waktu berjalan pelan tapi pasti, satu per satu itu tercentang tanpa gue sadari.
Bukan berarti semuanya sempurna. Tapi cukup untuk bikin gue berhenti sejenak dan berpikir
“oh, ternyata gue sudah sampai di sini ya”
Dan justru di titik itu, muncul rasa yang agak kosong.
Bukan karena kehilangan arah, tapi karena daftar mimpi yang dulu jadi pegangan, sekarang sudah tidak lagi relevan. Kayak buku yang sudah selesai dibaca, ditutup, lalu gue bingung harus mulai dari halaman mana lagi.
Ternyata mencapai mimpi bukan akhir dari segalanya. Justru itu awal dari pertanyaan baru
“sekarang gue mau ke mana lagi”

Gue mulai sadar, mimpi itu bukan sesuatu yang sekali ditulis lalu selesai. Dia harus terus diperbarui, seiring kita juga berubah. Apa yang dulu terasa besar, hari ini mungkin sudah jadi hal biasa. Dan itu bukan hal yang salah.
Justru itu tanda kalau kita bertumbuh.
Sekarang gue lagi ada di fase itu. Fase duduk diam sebentar, melihat ke belakang dengan rasa syukur, lalu pelan pelan menghadap ke depan lagi. Mulai nulis mimpi baru, dengan versi diri yang sudah lebih kuat, lebih tahu apa yang dia mau, dan mungkin juga lebih berani.
Kali ini bukan cuma soal pencapaian. Tapi juga tentang makna. Tentang perjalanan yang mau gue nikmati, bukan sekadar gue kejar.
Mungkin mimpinya belum sejelas dulu. Tapi gue percaya, selama gue terus melangkah, jawabannya akan ikut terbentuk di jalan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai. Tapi tentang seberapa sadar kita saat berjalan.
Dan hari ini, gue mulai lagi. Dari halaman kosong. Dengan mimpi yang belum sepenuhnya gue pahami, tapi cukup untuk bikin gue bergerak.
Pelan pelan, tapi pasti.












