Ada yang aneh dari segelas kopi yang dibiarkan hangat terlalu lama.
Dia tidak berubah rasa, tapi suasana di sekitarnya terasa ikut larut.
Di meja kecil itu, antara kopi yang pahit dan smoothies yang manis, gue duduk dengan kepala yang terlalu ramai. Padahal tempatnya tenang. Musiknya pelan. Orang orang sibuk dengan dunianya masing masing.
Tapi pikiran gue tidak ikut duduk.
Dia berjalan ke mana mana.
Ke hal hal yang belum selesai.
Ke percakapan yang seharusnya diulang.
Ke rencana yang belum tentu kejadian.
Lucunya, semua itu datang tanpa diundang.
Dan selalu muncul di waktu yang harusnya sederhana.
Segelas kopi jadi terasa berat.
Bukan karena rasanya, tapi karena isinya kepala.
Sementara itu, smoothies di depan gue dingin dan segar. Warnanya cerah, seolah ngajak buat santai. Tapi lagi lagi, tidak semua yang ada di depan mata bisa langsung dinikmati kalau isi kepala masih penuh.
Kadang gue mikir, mungkin bukan tempatnya yang salah.
Bukan kopinya.
Bukan suasananya.
Mungkin memang kita aja yang belum selesai dengan diri sendiri.
Di tengah banyak pikiran itu, gue cuma duduk.
Narik napas pelan.
Nyeruput kopi sedikit.
Berusaha pelan pelan berdamai.
Karena ternyata, tidak semua pikiran harus diberesin hari ini.
Tidak semua keresahan butuh jawaban sekarang juga.
Kadang, cukup ditemani.
Dengan kopi.
Dengan waktu.
Dengan diri sendiri yang akhirnya mau diam sebentar.
Dan di meja itu, di antara pahit dan manis yang kontras, gue belajar satu hal kecil
bahwa banyak pikiran tidak selalu harus dilawan
kadang cukup dibiarkan lewat
sambil tetap duduk, tetap hidup, tetap jalan.












0 comments:
Post a Comment