Hari itu suasananya hening. Aku menemani Raka, sahabat sekaligus ketua 530SOS, melewati salah satu hari paling berat dalam hidupnya. Ayahnya telah berpulang, dan aku di sana untuk memastikan dia tidak sendiri.
Aku bersama Idham langsung janjian ketemuan di dekat kantor kita buat sama-sama menuju ke rumah duka.
Hari berduka itu juga mengingatkan aku bahwa persahabatan sejati hadir bukan hanya di momen bahagia, tapi juga di saat-saat kehilangan.
Setelah disemayamkan di rumah duka, lanjut perjalanan dari rumah duka menuju pemakaman. Di sepanjang jalan, aku melihat Raka berusaha tegar, tapi aku tahu hatinya penuh kehilangan.
Setibanya di sana, kami mengikuti prosesi dengan tenang, menghormati kepergian sosok yang begitu berarti baginya.
Setelah pemakaman, acara tahlilan digelar. Duduk bersama keluarga dan teman-teman yang hadir, doa-doa dan cerita tentang ayahnya mengisi ruang itu. Aku hanya bisa menemani, memberi perhatian dan dukungan tanpa kata berlebihan, karena kadang kehadiran yang diam lebih berarti daripada ucapan apapun.






















0 comments:
Post a Comment