Minggu pagi di Jakarta International Marathon 2026 terasa berbeda buatku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama datang ke sebuah race, aku tidak berdiri di belakang garis start sebagai pelari. Kali ini tugasku jauh lebih sederhana, tapi ternyata sama menyenangkannya. Menjadi supporter.
Berbekal kaus 530 SOS, sedikit suara yang siap habis, dan semangat yang entah datang dari mana, aku datang untuk mendukung dua orang yang punya tantangan berbeda hari itu.
Raka akan menuntaskan Full Marathon.
Sedangkan Nesia akan berjuang di Half Marathon.
Kalau biasanya aku sibuk menghitung pace, memikirkan gel, atau mengecek detak jantung, kali ini yang kupikirkan hanya satu.
"Jangan sampai kelewatan momen mereka."
Rasanya menyenangkan melihat ribuan pelari memenuhi jalanan Jakarta. Ada yang masih penuh senyum di kilometer awal, ada yang mulai meringis ketika rasa lelah datang, ada yang berlari bersama keluarga, dan ada juga yang mengejar personal best.
Di antara ribuan wajah itu, aku hanya menunggu dua orang.
Saat akhirnya melihat Nesia muncul dari kejauhan, rasanya ikut lega. Masih kuat, masih tersenyum, dan masih sempat membalas teriakan kami. Kadang, beberapa detik dukungan dari pinggir jalan memang tidak membuat kaki menjadi lebih ringan. Tapi setidaknya bisa membuat hati merasa tidak berjuang sendirian.
Lalu tibalah momen yang paling kutunggu.
Raka.
Menyelesaikan Full Marathon bukan perkara mudah. Empat puluh dua kilometer selalu punya cerita. Ada rasa sakit, ada keraguan, ada momen ketika tubuh meminta berhenti, tapi pikiran memilih terus maju.
Melihatnya tetap berlari sampai garis akhir membuatku kembali diingatkan kenapa aku jatuh cinta dengan dunia lari.
Bukan soal medali.
Bukan soal catatan waktu.
Tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah ketika semuanya terasa berat.
Hari itu aku belajar bahwa menjadi supporter ternyata sama melelahkannya. Berpindah titik cheering, mencari posisi terbaik, berteriak sekeras mungkin, menunggu berjam jam, sampai kaki sendiri ikut pegal.
Tapi semua rasa capek itu langsung terbayar ketika melihat senyum mereka setelah finish.
Aku juga jadi semakin menghargai semua orang yang pernah berdiri di pinggir jalan sambil meneriakkan namaku di race race sebelumnya. Dulu mungkin terdengar sederhana.
"Semangat!"
"Ayo sedikit lagi!"
"Kuat!"
Sekarang aku tahu, teriakan sesingkat itu ternyata datang dari orang yang rela meluangkan waktunya hanya untuk membuat pelari lain merasa ditemani.
Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa di balik setiap finisher, selalu ada orang orang yang ikut berlari dengan caranya sendiri.
Selamat untuk Raka yang berhasil menyelesaikan Full Marathon.
Selamat juga untuk Nesia atas perjuangannya di Half Marathon.
Dan untuk semua supporter yang berdiri di bawah panas matahari, menunggu berjam jam, atau kehilangan suara karena terlalu sering berteriak...
Kalian mungkin tidak mendapat medali.
Tapi kalian juga bagian dari cerita setiap pelari yang berhasil mencapai garis finish.












0 comments:
Post a Comment