June 27, 2026

HYROX Jakarta 2026 Day 1: Menjadi Penonton Sebelum Menjadi Peserta


Sabtu, 27 Juni 2026.

Besok adalah hariku.

Kalimat itu terus berputar di kepalaku sejak bangun pagi. Untuk pertama kalinya, aku datang ke HYROX bukan hanya untuk menikmati atmosfernya, tetapi juga dengan satu perasaan yang berbeda. Besok aku akan berada di race floor yang sama.

 

Hari pertama sengaja kuhabiskan sebagai supporter. Aku datang ke NICE PIK untuk memberikan semangat kepada keluarga 530 SOS yang lebih dulu bertanding, terutama Raka dan Nesia. Meski hanya berdiri di balik pembatas arena, rasanya aku ikut merasakan setiap detak jantung mereka.

   

Begitu memasuki venue, energi HYROX langsung terasa. Musik yang menggelegar, suara penonton yang bersahutan, para peserta yang melakukan pemanasan, hingga wajah wajah penuh fokus sebelum masuk ke race floor. Semua yang selama ini hanya kulihat lewat video akhirnya ada tepat di depan mata.

 

Melihat langsung jalannya perlombaan ternyata memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Aku bisa melihat bagaimana setiap station benar benar menguras tenaga. Dari sled push yang terlihat begitu berat, wall ball yang tidak ada habisnya, hingga farmers carry yang tampak sederhana tetapi mampu membuat langkah peserta semakin melambat. Semua terlihat jauh lebih menantang dibandingkan yang selama ini kulihat di media sosial.

   

Di sela sela memberikan semangat untuk Raka dan Nesia, aku diam diam mulai membayangkan diriku sendiri. Besok, aku akan berdiri di tempat yang sama. Besok, aku akan merasakan tekanan yang sama. Besok, tidak ada lagi kesempatan untuk sekadar menonton.

Jujur, ada rasa gugup.

 


 


 



Bukan takut gagal, tetapi karena aku tahu persis tantangan yang menungguku. Berbulan bulan latihan akhirnya akan diuji. Semua sesi lari sebelum matahari terbit, latihan strength setelah pulang kerja, simulasi HYROX bersama teman teman, semuanya mengarah ke satu hari yang tinggal menghitung jam.

  

Namun melihat Raka dan Nesia bertanding justru membuat rasa gugup itu perlahan berubah menjadi semangat.

Aku melihat bagaimana mereka terus bergerak meski terlihat kelelahan. Aku melihat bagaimana setiap peserta saling menyemangati tanpa mengenal satu sama lain. Aku melihat bahwa HYROX bukan hanya tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang memilih untuk terus maju meski tubuh mulai ingin berhenti.

Hari itu aku juga semakin sadar betapa berharganya memiliki komunitas seperti 530 SOS. Tidak peduli siapa yang sedang bertanding, semua datang untuk memberikan dukungan. Teriakan dari pinggir lintasan mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi peserta yang sedang berjuang, suara itu bisa menjadi tenaga tambahan untuk menyelesaikan beberapa langkah berikutnya.

Menjelang sore, aku mulai meninggalkan venue.

 

Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Masih ada gugup, tetapi kini rasa penasaran jauh lebih besar. Aku sudah melihat race floor dari luar. Besok, aku akan menjadi bagian dari cerita itu.

Malam itu tidak banyak yang kupikirkan. Aku hanya memastikan semua perlengkapan sudah siap, mencoba beristirahat sebaik mungkin, lalu berdoa agar esok tubuh dan pikiranku mampu memberikan yang terbaik.

  

Karena ketika matahari terbit pada hari Minggu, aku tidak lagi datang sebagai supporter.


Aku datang sebagai peserta HYROX Jakarta 2026.

0 comments:

Post a Comment