Ada sesuatu yang selalu beda setiap kali gue ada di bandara.
Bukan cuma soal mau pergi ke tempat baru, tapi lebih ke rasa yang campur aduk. Capek iya, excited juga iya, tapi di satu sisi ada momen diam yang bikin gue mikir.
Bandara itu aneh. Semua orang lagi pergi ke arah masing-masing, tapi di waktu yang sama kayak lagi ada di titik yang sama. Sama-sama nunggu, sama-sama berharap, sama-sama memulai sesuatu.
Gue duduk, ngeliat sekitar, sambil sesekali ngecek boarding pass yang sebenernya udah gue cek berkali-kali. Bukan karena takut salah, tapi lebih ke belum sepenuhnya “sadar” kalau perjalanan ini beneran dimulai.
Di bandara, sambil nunggu flight gue isi perut dengan menu mi kuah hangat dan kopi biar mata tetap melek segar.
Pas di counter kasir, teranyata ada promo dari HSBC credit card, sebagai pengganti program airport lounge bandara. Jadi gratis deh makan dan minum gue di sini, lumayan banget sambil nunggu di bandara.
Masuk ke pesawat, suasananya langsung berubah. Lebih tenang. Lebih sunyi. Lebih personal. Suasana flight senja ini semakin syahdu aja dan mahal banget buat dilewatkan.
Di kursi dekat jendela, gue liat keluar. Langit senja yang menguning perlahan bikin mata dan hati serasa lepas dan rileks seolah melepas semua beban-beban hidup yang selama ini dipikul erat keseharian di ibukota.
Penerbangan berlanjut, lampu-lampu kota perlahan menjauh, makin kecil, sampai akhirnya hilang. Dan di situ, yang tersisa cuma gelap… dan langit malam.
Aneh ya, justru di kegelapan itu gue ngerasa lebih “lihat”.
Langit penuh bintang, luas banget, dan bikin gue sadar kalau hidup tuh sebenarnya juga kayak gini.
Kadang kita lagi ada di fase yang gelap, gak jelas arahnya kemana. Tapi bukan berarti gak ada apa-apa. Bisa jadi, justru di situ kita lagi ada di perjalanan yang penting.
Di atas sana, jauh dari hiruk pikuk, gue ngerasa semuanya melambat.
Gak ada notif kerjaan, gak ada distraksi, cuma gue dan pikiran gue sendiri.
Dan mungkin, ini yang sering kita lupa.
Bahwa di tengah hidup yang serba cepat, kita juga butuh momen untuk berhenti sebentar. Bukan untuk mundur, tapi untuk ngerti lagi kenapa kita mulai.
Perjalanan ini mungkin cuma beberapa jam.
Tapi rasanya kayak ngasih ruang buat gue buat “balik ke diri sendiri”.
Karena ternyata, gak semua perjalanan harus tentang sampai.
Kadang, yang paling berarti justru yang terjadi di tengah jalan.



























0 comments:
Post a Comment