Ada satu hal yang konsisten dari geng Makassar gue ini. Bukan nama grupnya, tapi kebersamaannya.
Dari zaman masih sok kalem pakai nama “Remaja Mesjid Kemang Village”, sampai sekarang yang entah kenapa berubah jadi “The Swifties”. Alasannya juga ga kalah absurd. Karena kita lagi sering dengerin lagu Taylor Swift, dan Kak Iyan baru beli mobil Suzuki Swift. Yaudah, jadi aja. Logika yang ga perlu dijelaskan, cukup dijalanin.
Hari itu dimulai dari hal yang sederhana. Ngopi.
Di Kopi Tuku Sudirman, obrolan ngalir tanpa arah yang jelas. Dari bahas kerjaan, lari, sampai hal-hal random yang cuma kita yang ngerti lucunya di mana. Idham dengan komentarnya yang selalu out of the box, Kiki yang jadi penyeimbang, dan Kak Iyan yang entah kenapa selalu punya cara merangkul sekaligus memecah pertemanan ini.
Dari kopi, kita pindah ke agenda yang lebih serius. Makan.
Karena ini geng Makassar, jadi standar makanannya juga ga main-main. Coto, nasi goreng merah, dan berbagai hidangan khas Makassar di RM Pelangi Menteng langsung jadi meja penuh cerita. Tempat ini udah kayak basecamp. Ga perlu mikir mau makan apa, karena jawabannya hampir selalu sama.
Yang bikin beda hari itu, justru kejadian kecil yang ga direncanain.
Gue sama Kak Iyan memutuskan buat lari sore di GBK. Tanpa janjian, tanpa koordinasi, kita datang dengan jersey timnas warna putih yang sama persis. Kayak udah di-script, padahal enggak. Dari situ aja udah cukup buat jadi bahan ketawa sepanjang lari.
Larinya sendiri santai. Ga ngejar pace, ga ngejar target. Lebih ke ngejar momen biar ga cepat hilang.
Lari malam selalu punya rasa sendiri. Obrolan ngalir lebih santai, kadang jeda cuma buat tarik napas, kadang malah ketawa di tengah pace yang ga jelas. The Makassars kalau udah kumpul memang jarang bisa serius lama-lama.
Selesai lari, keringat masih nempel, tapi niat pulang langsung ga pernah jadi pilihan. Justru di situ biasanya ide-ide random muncul. Malam itu Kiki sama Idham kompak ngajak, “Ke Chagee yuk, lagi rame banget.”
Tanpa banyak debat, kita langsung geser ke FX Sudirman. Masuk mall malam hari setelah lari tuh rasanya kontras banget. Dari gelap dan lembapnya luar, tiba-tiba masuk ke ruang terang dan dingin. Kaya pindah dunia sebentar.
Di Chagee, suasana masih hidup walau udah malam. Antrian tetap ada, orang-orang masih pada cari minuman buat nutup hari mereka. Kita pun ikut larut. Milih menu sambil bercanda, sok review padahal baru pertama kali nyobain.
Pas minuman datang, momen paling ditunggu akhirnya tiba. Tegukan pertama, lalu saling liat. Reaksinya campur. Ada yang langsung suka, ada yang mikir dulu, ada juga yang lebih fokus ke suasananya daripada rasanya.
Dan ternyata memang bukan minumannya yang jadi inti cerita malam itu.
Duduk bareng setelah lari malam, badan capek tapi kepala lebih kosong, obrolan ngalir tanpa arah, itu yang bikin semuanya terasa lengkap. Dari bahas lari, hidup, sampai hal-hal receh yang ga penting tapi tetep seru.
Ada hari lain yang terasa sederhana, tapi justru itu yang bikin dia nempel lama di ingatan.
Masih sama, bareng geng yang sampai sekarang namanya juga belum jelas. Kadang Swifties, kadang The Makassars. Isinya tetap orang orang yang sama, Idham, Kiki, Kak Iyan, dan gue. Yang berubah cuma ceritanya.
Hari itu kita mulai dengan sesuatu yang hangat. Bukan obrolan duluan, tapi semangkuk coto. Pilihan yang terasa tepat tanpa banyak diskusi. Duduk bareng, nunggu pesanan datang, lalu tiba tiba suasana langsung hidup. Dari yang awalnya cuma lapar, jadi panjang ngobrol ke mana mana.
Coto itu bukan cuma soal rasa. Ada momen di mana kita berhenti sejenak dari rutinitas, duduk tanpa buru buru, dan benar benar hadir di situ. Kuahnya hangat, dagingnya empuk, dan obrolannya ngalir tanpa perlu dipaksakan. Ketawa kecil, saling lempar cerita, sampai kadang lupa kalau hari masih panjang.
Tapi hari itu belum selesai.
Setelah perut kenyang dan energi terisi lagi, kita lanjut ke sesuatu yang jauh lebih bermakna. Donor darah. Aktivitas yang mungkin terlihat sederhana, tapi rasanya beda ketika dijalani bareng orang orang yang sama sama mau berbagi.
Di sana suasananya berubah. Lebih tenang, lebih hening, tapi tetap terasa hangat. Satu per satu dari kita duduk, nunggu giliran, sambil tetap ngobrol ringan. Ada yang sedikit tegang, ada yang santai seolah ini hal biasa. Tapi di balik itu semua, ada rasa yang sama. Kita lagi melakukan sesuatu yang mungkin kecil buat kita, tapi besar buat orang lain.
Lucunya, setelah selesai, bukan rasa lemas yang jadi cerita utama. Tapi justru rasa lega. Ada kepuasan yang susah dijelasin. Dari makan bareng sampai berbagi darah, hari itu terasa utuh.
Geng ini mungkin ga punya nama yang pasti. Tapi kalau ada satu hal yang jelas, kita selalu berhasil bikin hari hari biasa jadi punya arti.
Dari coto sampai donor darah, dari tawa sampai diam yang bermakna. Semua terasa pas, karena dijalani bareng.
Dan mungkin itu yang paling penting.
Karena pada akhirnya, geng ini bukan soal namanya apa.
Mau itu Remaja Mesjid, The Swifties, atau nanti berubah lagi jadi apa, ga ada yang terlalu penting. Yang penting adalah cerita-cerita kecil kayak hari itu. Ngopi bareng, makan sampai kenyang, lari tanpa rencana, dan ketawa tanpa alasan yang jelas.
Dan mungkin, itu yang bikin semuanya terasa cukup.




































0 comments:
Post a Comment