Internship in Eisai Indonesia, DAMN! How Lucky I am!

For me, Internship Program in PT Eisai Indonesia by The DEC Project Managers Meeting and BELKAGA Event is a really one of my greatest experience ever. The way we meet, discuss, and initiate many ideas for better Indonesian Future in social health. By this experience I learn how to maintain a big project into local level, directly visit to the company and finalized the ideas by share and discussion with the company leader form Japan and in Indonesia, and also the project managers around the world. Thank you AIESEC! for having me in this project.

DIMAS DIAJENG JOGJA 2019

Paguyuban Dimas Diajeng Jogja adalah rumah untuk mengembangkan potensi diri, tempat di mana kami saling menerima perbedaan, mendukung satu sama lain dan mendedikasikan diri sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing untuk bersama-sama mendukung pengembangan pariwisata kota Jogja.

Gadjah Mada Menyapa: Serunya Berkeliling Sulawesi Selatan dan Menebar Semangat Kebaikan

Menjadi satu di antara segelintir anak daerah yang bisa mengenyam pendidikan di kampus besar Gadjah Mada membawa tanggungjawab tersendiri untuk berkeinginan berbagi dan menginspirasi mereka adik-adik kami yang lainnya untuk bisa bermimpi dan bercita-cita setinggi-tingginya. Ini pengalaman kami berkeliling Sulawesi Selatan bersama Himpunan Mahasiswa Gadjah Mada Sul-Sel dalam rangkaian Gadjah Mada Menyapa.

Gadjah Mada Muda: Petualanganku sebagai Mahasiswa UGM Berawal di Sini

Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah karena saya sadar tidak semua dari anak daerah seperti saya bisa mencicipi bangku kuliah, apalagi di salah satu kampus ternama seperti Universitas Gadjah Mada. Dengan momen berharga ini, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada untuk dapat belajar dan membangun potensi yang lebih baik lagi serta menebarkan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan melalui dedikasi dan semangat untuk mengabdikan diri. Inilah awal kisahku, Gadjah Mada Muda 2014

MUN: Pengalaman Merepresentasikan Negara di Simulasi Forum PBB

Simulasi Sidang PBB atau Model of United Nations adalah salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat dalam mengasah keterampilan dan kapasitas dalam bernogosiasi, berdiskusi dan beradu argumen untuk lebih peka dan peduli pada isu-isu internasional. Simak bagaimana saya mengikuti Padjadjaran Model United Nations, dan dapatkan tips-trik bagi kamu yang mau mengenal dunia MUN di sini.

September 10, 2019

Kamu Lucu :)

"No one ever said Im cute since I was 6. They call me fat instead of cute. brrr"

 Isi pesan singkat dari salah seorang teman lama yang lagi stres mikirin skripsi ga kelar-kelar. Akhirnya bisa berkomunikasi lagi meskipun jarak jauh dengan dia yang lagi ga di Jogja.

Ternyata di samping tugas akhir skripsi yang perjuangannya memang sungguh nyata buat dilalui, keresahan terbesar yang mungkin dia ga sadari sendiri dalam alam bawah sadarnya adalah: berdamai dengan "they call me fat"  wkwk😆

Dan sayangnya aku ga bisa ngasih respon apa-apa.
Because I feel it too. 

Haha!

Mungkin sampai sekarang rasanya masih sensitif kalau ada yang ngatain soal body shaming. Mulai dari ekspresi tipikal santun kaya "agak gemukan ya kamu sekarang", ke yang agak nyablak ngomen "hoo perut perut", sampai yang mungkin kalangan bangsa satwa liar yang seenak jidat ngatain "heh si babi" "dasar keboo". Parahnya lagi yang ngatain babi ini adalah para kawanan anjing-anjing liar, entah kita pernah mulai kenal di mana dan kapan awal mula sebenarnya.

woow.

baru sadar aku punya kehebatan khusus berinteraksi dan berteman dengan satwa. Mungkin abis ini chanel tv saya tunggu endorsenya kali aja mau cari penggantinya Panji Sang Petualang atau Deni Manusia Ikan :)

Tadi malam, rasanya senang bisa saling curhat dan sambat dengan Mba Irma, konco kenthel parner magang semasa di YouSure FISIPOL UGM tahun 2017 lalu. Sebelumnya, siang harinya juga kebetulan ketemu dengan Mas Adit, yang jadi Project Officer semasa magang kami itu. 

Rasanya minggu-minggu terakhir bertemu dan bercengkrama lagi meskipun dengan media sosial jarak jauh dengan teman-teman lama semasa kuliah itu menyenangkan. Apalagi bisa ketemu langsung dan hang out bareng. 

Weekend yang lalu bareng teman-teman KKN ku di Sabang periode 2017 lalu: Yori, Mona dan Lusi. Kita waktu itu akhirnya main ke Kopi Rolas yang ada di sekitar Kaliurang atas sebelumnya Kopi Klotok.

Selain banyak kenangan yang bisa kita ungkit dan tertawakan lagi bareng-bareng, ternyata bertemu dengan kawan-kawan lama ada banyak inspirasi baru yang bisa di dapatkan dari obrolan-obrolan yang terbangun. 

Selain itu, mungkin termasuk soal sharing common problem biasanya seputar quarter life crisis biar bisa kuat menghadapi tahapan pendewasaan diri yang memang teorinya kebanyakan bakal ngalamin di usia-usia 20-an seperti kita-kita ini.

Di usia-usia menginjak dua puluhan, memang sepertinya kebanyakan dari kita akan mulai menghadapi kondisi mental dan emosional yang tidak stabil karena kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul soal pekerjaan, kemapanan, keluarga, calon jodoh dan kecemasan-kecemasan lainnya soal gambaran masa depan.

Dari obrolan yang banyak aku dapatkan, salah satu upaya penyembuhan yang paling efektif memang adalah upaya untuk grounding: menyadari posisi kita dan sekitar kita (ground)

Dan ini juga aku masih dalam tahap awal banget soal belajar grounding ini. Tapi yang aku rasakan memang jauh berbeda setelah mulai menenangkan diri dan belajar grounding. Ini soal bagaimana kita berusaha meletakkan perasaan dan logika kita secara pelan-pelan untuk kembali dan berfokus pada apa yang sedang dihadapi sekarang. 

Kebanyakan dari kita merasakan stres dan kecemasan berlebihan karena pikiran kita kebanyakan berfokus pada masa depan yang tidak pasti. Dan alih-alih mencemaskan situasi di masa depan yang belum kita hadapi itu, seharusnya energi yang kita miliki digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih penting dan produktif: menghadapi diri kita versi saat ini.

Dengan berfokus pada situasi diri dan lingkungan kita saat ini, kita akan jauh lebih bisa menggali obrolan-obrolan pribadi antara logika dan hati kita sendiri dan menemukan cara yang tepat untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri. 

Mungkin bisa jadi cara ini dalam bentuk bertemu dengan orang lain seperti yang aku ceritakan tadi, atau mencari orang-orang baru, datang ke tempat-tempat tertentu, meluangkan waktu untuk menikmati diri sendiri (me time), berkomunikasi dengan hewan peliharaan, dengan tanaman atau bahkan dengan benda-benda tertentu. 

Mungkin kedengaran gila ya, ngomong kok sama hewan, tumbuhan sama barang. wkwkwk Ini sama sekali bukan mau mengajari sekte sinting dari perguruan mana ya, tapi lebih kepada menentukan cara terbaik yang tailored (gatau bahasa yang pas indonesianya apa yaa; semacam custom, fit, dan proper sama diri kita sendiri gitu; malah Inggris meneh -- itulah pokoknya) yang sesuai sama diri kita sendiri.

Karena kadang kita merasa malu atau memang tidak nyaman untuk langsung berbagi sebuah masalah pada orang lain, atau bahkan merasa belum menemukan orang yang pas yang dirasa nyaman untuk diajak berbagi dan membicarakan masalah yang sedang dihadapi. 

Jadi bicara dengan kucing, atau kaktus kenapa tidak. Ini semata-mata sebenarnya untuk mengungkapkan untalan benang kusut yang ada di kepala kita yang dirapikan secara perlahan-lahan dengan cara mengungkapkannya langsung. Atau dengan menuliskannya mungkin. 

Bahkan sambil berolahraga, merajut (seperti yang dilakuin Amel teman kantorku sekarang), atau melakukan aktivitas apapun yang bisa menenangkan pikiran.

Kalau mau main mobile legend juga bisaaa! add aku : Susu Bendera. Kita mabar pushrank sampai legenddd :)

Bagaimanapun cara dan bentuknya,

Sensasi terbaik adalah ketika kita bisa menemukan keinginan diri kita sendiri dan menyadari cara yang paling cocok bagi kita dalam menghadapi gangguan mental yang sedang kita hadapi.

Jadi jangan sampai kamu berlarut-larut dengan kesedihan dan tekanan yang kamu hadapi yaa. Jangan pernah merasa sendiri, merasa tidak berharga. Jangan pernah berlarut-larut berpikiran kamu bukan siapa-siapa atau tidak punya apa-apa.

Apalagi mau bunuh diri.
Jangan! plis deh.

Kamu jauh sangat berharga dan masih banyak sekali hal di sekitar kita yang bisa kita nikmati, dan disyukuri. Hal yang terpenting adalah menyadarinya.

Lihat aku di sini :) ea

Kalau mau sharing, jangan sungkan kontak aku di sosmed yang ada di atas yaaa.

Feel free to talk ✋😇







Pak Pur, Hero dari Warung Boto


Pagi ini kaki masih pegal sisa kegiatan kemarin bertajuk Festival Kampung Wisata 2019.  Kegiatan ini adalah salah satu event persembahan Dinas Pariwisata Kota Jogja untuk mempertemukan kampung-kampung wisata yang ada di Jogja untuk dapat memamerkan kekayaan budaya dan atraksi pariwisata yang ada di kampungnya masing-masing. Selain itu, momentum ini juga menjadi ajang baik bagi para pegiat kampung wisata untuk membangun forum komunikasi satu sama lain dengan para pengelola dari kampung wisata lain agar bisa bertukar gagasan dan bersinergi membangun daya tarik pariwisata kota Jogja menjadi baik dan lebih baik lagi.

 Sebagai organisasi di bawah naungan Dinas Pariwisata, Paguyuban Dimas Diajeng Kota Jogja menjadi salah satu garda dalam merealisasikan kegiatan ini bersama dengan tim panitia lainnya. Kami dari Dimas-Diajeng kemudian diamanahkan untuk bertugas sebagai LO pendamping para perwakilan kampung-kampung wisata selama kegiatan berlangsung. Adalah Pak Purnomo, salah seorang pegiat kampung wisata yang berasal dari Kampung Wisata Warung Boto. Pesan singkat melalui whatsapp dua malam sebelum kegiatan menjadi awal komunikasiku dengan beliau. Tidak banyak, malam itu pesan singkat yang aku kirimkan untuk memperkenalkan diri sekaligus memastikan persiapan festival dari kampung yang dikelola beliau.

Mendampingi Warung Boto
Dalam rangkaian kegiatan ini aku kebagian membantu komunikasi panitia dengan perwakilan kampung wisata sebagai LO dengan kampung wisata Warung Boto. Selain Warung Boto, ada 15 kampung wisata lainnya yang turut menyemarakkan festival ini. Dan teman-teman dari paguyuban Dimas-Diajeng lainnya tersebar membantu komunikasi panitia dengan kampung-kampung wisata itu.

Aku berterima kasih kepada Dimas Yosa (Dimas 2019) soal hal ini. Sebelumnya aku ditugaskan untuk menjadi LO kepada satu kampung wisata, Dipowinatan. Namun karena susunan acara yang dirancang oleh panitia Dinas Pariwisata menunjuk kampung Dipowinatan unjuk aksi pada hari pertama kegiatan, kira-kira sore hari jam empat. Aku mulai khawatir. Karena di jam yang sama bertepatan dengan agenda pribadi yang sudah kujadwalkan sebelumnya. Kegiatan di luar kota yang kubayangkan mungkin juga akan selesai sore hari pukul empat. Tidak mungkin memaksakan keduanya kuhadapi bersamaan.

Mengadu. Akhirnya akupun memberanikan diri mengadu ke panitia acara dari Dinas Pariwisata.  Mencoba menawarkan untuk bertukar posisi agar bisa bertugas di hari kedua acara. Dan saat itu sudah kusiapkan obrolan lobi pribadi dengan Yosa untuk bertukar posisi. Yosa sendiri adalah salah satu sahabat dekat di Dimas Diajeng selama proses karantina, yang dititahkan dalam sebuah file excel berisi susunan acara dan pembagian posisi panitia untuk menjadi sang LO kampung wisata Warung Boto. Kebetulan dalam susunan rundown itu, Kampung Wisata Warung Boto kebagian hari kedua. Yess. Setelah kudiskusikan dengan Ibu Septi (Mba Septi, pegawai dinas yang mengatur rundown dan pembagian job desc panitia), dia mengizinkan. Keberuntungan masih berpihak, dua acara yang kuagendakan ini bisa kuikuti tanpa harus saling mengganggu.

"Akan kami usahakan.."
Setelah memastikan pertukaran kami berdua terkonfirmasi, aku dan Yosa bertukar nomor kontak perwakilan kampung wisata. Dan saat itulah saya pertama kali berinteraksi dengan Pak Pur. Dari pembawaannya melalui pesan singkat, Pak Purnomo adalah orang yang bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi. Tercermin dari proses komunikasi yang bisa cepat tanggap direspon oleh beliau, termasuk dengan pergeseran panitia LO dari Yosa ke Aku yan bukan jadi sebuah persoalan bagi beliau. Semua persiapan selalu terkonfirmasi dan selalu dengan kata kunci "akan kami usahakan". Aku menangkap energi positif. Persiapan akhirnya kuanggap aman. Sampai tiba-tiba di pagi hari persiapan hari kedua festival kami panitia berkumpul. Dan kejutan dimulai. Ternyata ada perubahan waktu dalam susunan acara hari kedua. Semua rangkaian acara dimulai lebih awal sekitar 45 menit.

Segera langsung kudatangi tenda kampung wisata Warung Boto untuk menemui pak Purnomo. Pak Pur tidak bisa diminta tampil lebih awal pada jam setengah lima sore. Patokannya dengan anak-anak yang Ia bawa adalah waktu solat magrib. Mereka akan tampil setelah magrib. Ada sekitar 20 anak yang harus didandani dan tidak mungkin diminta lebih cepat 45 menit. Alasannya tidak bisa kubantahkan. "Tapi akan coba kami usahakan, jam 5 ada di lokasi." Sebuah pengharapan untuk membuatku tenang. Aku kembali ke tenda panitia membawa kabar dengan perasaan yang masih dengan keraguan.

Dimas Krisna (senior Dimas Diajeng 2011) yang bertugas sebagai menejer panggung lepas tangan, minta semuanya keep on schedule sesuai yang dia pegang. Asem. Mas Krisna ternyata serius juga ya kalau megang acara.

Dan membayangkan Pak Pur dengan 20 orang pasukan yang harus didandani, rasanya pengharapan untuk tiba di lokasi jam 5 terlalu dipaksakan.

 Satu-satunya jalan yang bisa kulakukan adalah menemui langsung Pak Wawan (yang lebih sering kami panggil Mas), Kasi Dinas Pariwisata sebagai komandan lapangan acara ini, meminta kebijaksanaan pergeseran waktu.
Pak Purnomo, Aktivis Kampung Wisata Warung Boto (Credit: Facebook Pak Pur )

Atraksi!

Jam dua siang, acara atraksi penampilan pasukan kampung atau "bregodo" akan menjadi pembuka acara hari kedua. Atraksi seni pasukan kampung pada hari kedua ini dimeriahkan oleh 10 kampung wisata yang tersisa, setelah sebelumnya di hari pertama telah tampil 6 kampung. Perlahan para peserta atraksi Bregodo meramaikan XT Square Jogja yang menjadi tempat perhelatan acara ini. Kami para LO pun menyebar menemui masing-masing kampung wisata yang akan kami dampingi.

Kostum Bregodo Kampung Wirobroto
Di belakang panggung kutemui remaja-remaja tanggung lengkap dengan kostum prajurit tradisional dan tombak. Mereka akan membawa nama kampung mereka, Warung Boto dalam atraksi Bregodo ini. Kulihat tidak ada ekspresi takut, malu, atau demam panggung di wajah mereka. Padahal mereka berada di tengah pasukan bregodo kampung-kampung lainnya yang justru kebanyakan orang dewasa dan bahkan sudah tua.

Tidak lama, kulihat Pak Pur mendatangi. Bajunya sudah berganti dengan kaos polo biru muda bertuliskan Warung Boto, mempertegas posisinya sebagai kru ofisial. Kusalami beliau dan mengajukan lembaran absensi untuk memastikan pasukannya sudah lengkap dan siap. Dengan sigap pak Pur mengomandoi sendiri anak-anak pasukannya. Sembari persiapan di jalur yang sudah ditentukan, anak-anak ini saling berdiskusi mandiri memastikan tidak ada koordinasi yang keliru di antara mereka. Dan Pak Pur membersamai, sesekali membetulkan sikap atau menunjukkan arahan gerak dan pola posisi yang pas. Meskipun sendirian, Pak Pur percaya diri dan fokus mempersiapkan penampilan anak-anak remaja yang dibawanya.

Pasukan Bregodo Wirotirtobroto, dengan Pak Pur di Kiri
Brogodo penampil kedua. Setelah pasukan pertama tampil dengan kostum serba ungu, saatnya aku dengan papan yang kupegang bertuliskan Warung Boto maju menunjukkan pasukan bregodo akan memasuki area atraksi. Laskar bregodo dari Warung Boto ini diberi nama "Wirotirtobroto". Dengan iringan gamelan dan suara khas tradisional jawa yang juga dimainkan langsung oleh mereka, perlahan mereka bergerak memasuki pelataran halaman utara XT Square tempat yang disiapkan untuk pasukan menunjukkan atraksi bregodonya.

Dengan semangat mereka menampilkan sebuah atraksi tarian dan pertunjukan adu senjata. sekitar 10 menit dan akhirnya penampilan mereka kemudian dilanjutkan dengan atraksi kampung wisata selanjutnya. Di belakang kutemui pak Pur lagi dan mencoba memastikan pentas seni yang akan ditampilkan agar bisa hadir di lokasi jam lima sore. Pak Pur meragu. Ternyata yang akan membawakan penampilan seni adalah mereka anak-anak yang sama ditugaskan untuk bregodo yang baru saja selesai tampil. Mereka baru mau kembali ke basecamp mereka untuk didandani.

Dua jam berselang sampai 9 pasukan bregodo akhirnya selesai menampilkan atraksinya yang sangat unik-unik dan bermacam-macam kreasi. Pesan masuk dari tim stage manager menanyakan kesiapan penampil dari Warung Boto. Dalam hati aku sudah pesimis, kusampaikan mereka berusaha datang jam 5 sesuai pengharapan Pak Pur.

Pertunjukan Seni: Abis Magrib 
jam menunjukkan pukul 16: 30 dan sepuluh pasukan bregodo dari kampung wisatanya masing-masing telah selesai tampil di hadapan pengunjung festival dan juri. Susunan acara yang dipandu Dimas Aga (Dimas 2011) dan Diajeng Thea (2019) berjalan sesuai rundown tepat waktu dan sekarang mulai bergeser ke atraksi pertunjukan seni. Kampung Wisata Tahunan yang bertugas sebagai penampil pertama sudah siap untuk tampil, sementara belum ada kabar lagi dari Pak Pur untuk Warung Boto yang akan tampil sesudahnya.

Setelah mengirimkan pesan wa beberapa kali ke Pak Pur, kudatangi tenda stand Warung Boto dan bertemu degan seorang ibu-ibu yang juga mengenakan baju yang sama dengan Pak Pur. Kusampaikan bahwa penampil selanjutnya adalah Warung Boto, dan meminta bantuan untuk mengontak adik-adik yang akan tampil. Kutelpon langsung nomor Pak Pur, tapi sepertinya Pak Pur di tengah-tengah persiapan anak-anaknya yang sedang dandan. Penampilan seni pertama berlangsung, dan kru stage manager bergantian menanyakan kabar Warung Boto. Ingin menjawab "Warung Boto baik-baik saja" tapi sepertinya bukan ini yang mereka mau :)

"Pak Pur, penampilan seni yang pertama sudah mulai pak. Ditunggu di barat panggung adek-adek reognya ya pak.."

Kru panggung akhirnya menanyakan kehadiran penampil seni dari kampung wisata lainnya, melihat apakah ada yang bisa dimajukan supaya waktu luang sebelum magrib masih bisa terisi dengan satu penampilan seni sebelum jeda. Perhitungan waktu akan molor sampai jam sebelas malam kalau atraksi seni lainnya yang tersisa dimulai setelah magrib jam 17:45.

Tapi akhirnya memang ternyata tidak ada yang bisa 😅😅

Sepertinya tinggal mengandalkan Warung Boto. Aku jadi panik sendiri. Setelah penampilan seni pertama selesai, suasana festival menjadi kosong sekitar 45 menit dan yang dilakukan panitia-panitia adalah foto bersama. Di tengah hape lowbat 1% dan powerbank pinjaman dari Dimas Riyan (Dimas 2019), aku berpose bersama yang lain sambil hape yang gabisa lepas buat mengikuti perkembangan keberadaan adik-adik Warung Boto. Dan Pak Pur tentunya.

Pesan singkat dari pak Pur masuk.

"ttp habis maghrib. sesuai rundown yg sy trima dr awal" Sepertinya Pak Pur benar-benar hectic dan menyerah dengan kengototan panitia 😔

Akhirnya diputuskan pertunjukan seni dilanjutkan setelah magrib: jam 18:00.

Kukirimkan pesan singkat terakhir ke Pak Pur: "Update infoo pak Pur: Njeh, pentas seninya abis magrib njeh pak. Jam 18:00 langsung tampil."

Juaraa!!
Jam menunjukkan pukul 18:05, dan panitia kembali di posisi untuk persiapan untuk melanjutkan acara. Akhirnya adik-adik yang tadi bertugas sebagai bregodo sudah mulai berdatangan kembali dengan wajah masing-masing yang sudah dirias. Pengunjung semakin ramai berdatangan, dan akhirnya Dimas Aga muncul kembali ke panggung bersama Diajeng Mala (2019) yang menggantikan Thea. Menit-menit berikutnya panggung utama mulai kembali menarik perhatian pengunjung dan akhirnya penampilan pertama dari Warung Boto melanjutkan rangkaian pertunjukan seni.

Persiapan Penampilan Atraksi Seni Kampung Warung Boto 
penampilan mereka pun dimulai. Aku berdiri di sisi kiri panggung dan beberapa panitia panggung yang lewat menepuk pundakku. "akhirnyaaa.." 

Ya memang akhirnya lega, mereka tampil.

Penampilan tarian mereka akhirnya sukses berjalan lancar.

Setu persatu penampilan yang lain akhirnya mengikuti jalannya rangkaian acara sampai kesepuluhnya selesai menampilkan atraksi seninya masing-masing. Bermacam-macam atraksi seni ditampilkan, ada tari-tarian, pertunjukan drama oleh anak-anak kecil, nyanyi-nyanyian, sampai ada yang flashmob. Asik juga joged meluapkan energi haha.

Turut berbangga, kampung Wisata Warung Boto bisa berhasil meraih Juara 2 Lomba Stand Terbaik, dan Juara 2 Penampilan Atraksi Seni. Dua juara itu juga kemudian mengantarkan Warung Boto meraih gelar Kampung Wisata Terbaik II dalam gelaran Festival Kampung Wisata Kota Jogja 2019.

Suasana foto bersama Warung Boto di stand Festival Kampung Wisata Jogja 2019
Di balik prestasi Warung Boto, Mungkin tidak ada yang tahu ada cerita Pak Pur yang menjadi komandan tempur kampung membawa nama baik kampung dalam gelaran acara ini. Kegigihannya menggerakkan sumber daya yang ada di sekitarnya dan memperjuangkan nama baik kampung wisata Warung Boto cukup patut diacungi jempol.

Dengan senyum bahagia, Pak Pur naik ke panggung sebagai perwakilan menerima penghargaan Kampung Wisata Terbaik II Festival Kampung Wisata Jogja 2019.

Ketampanan pak Pur jadi dua kali lebih bersinar. Tapi mungkin tidak kalah dengan Dimas Krisna, sang stage manager yang sudah baik hati dari siang hari bikin grusak grusuk panik soal rundown, mengajarkan arti penting tanggungjawab dengan caranya sendiri 👀) (dalam hati: you know what I mean MASS!)

Dan aku ga punya dokumentasi fotonya karena di momen pengumuman dan penyerahan hadiah, hapeku akhirnya mati total setelah berwira-wiri menghubungkan panitia dan mengontak Pak Pur dengan kondisi hape dan power bank baterai low seadanya😤😤😤.

Sekali lagi, Selamat Pak Pur!

Buat teman-teman yuk ketemu langsung dengan Pak Pur dan nikmati wisata budaya dengan mengunjungi cagar budaya Warung Boto yang bagus ini 😊

Credit: panduanwisata.id

September 09, 2019

Puisi: Merindu




Di tengah riuh dan gaduh,
tersungkur aku di tengah keramaian
Hening
Dan kusadari segera, aku sedang merindu

Tak kuasa tuk menolak
Dalam hening hati menyeruak
Semakin dalam berkaca
Dan yang terpikirkan hanya kamu, satu.

Tapi tidak akan kulampaui batas yang kujanjikan

Ku coba meyakinkan diri sendiri
Bahwa yang sedang kuperjuangkan
Tak lain adalah kerinduan itu sendiri

Menyemogakan
Agar rindu bisa tetap hadir
Sampai esok,
Melanggengkan aku di ingatanmu.


Jogjakarta, 9 September 2019 dini hari.
dengan mata yang kuncup mekar setelah dua belas jam di tengah keramaian.


September 08, 2019

Puisi: Tumbuh


Air menetes
Tanah membasah 
Kembang mekar 
Dan kulihat kau tumbuh
Kuncup perlahan mengembang
Layumu tak akan pernah kusemogakan
Lagi.

Selamat bertumbuh
semoga merekahmu abadi
Pula kuharap aku 
kusemogakan yang sama bagi kita berdua
meski di atas bejana yang tak lagi sama. 


Jogjakarta, 8 September 2019


Senang rasanya bisa menyaksikan kebahagiaan-kebahagiaan terjadi di kehidupan orang lain.
Hari ini, salah satu senior sekaligus teman seangkatan semasa pendidikan di asrama beasiswa semasa kuliah, baru saja melangsungkan resepsi pernikahan di kampung halamannya, setelah melangsungkan akad nikah beberapa hari sebelumnya di Bandung. 

Bandung (?) 

Tidak, tidak, Bandung punya cerita sendiri. 
Mungkin besok akan cerita banyak soal ini.
Belum sekarang.

Acara resepsi abang kami ini dilangsungkan di Batang, kota sederhana beberapa jengkal dari Temanggung. 

Kebahagiaan terpancar darinya, dan perempuan anggun yang berdiri tersenyum di sampingnya. Betapa bahagianya mereka berdua, begitu pula dengan keluarga yang hadir, yang datang mengantarkan doa untuk kesalamatan babak baru kehidupan mereka. Kami semobil yang datang dari Jogja pun turut mengantarkan iringan bahagia dan rangkaian doa. 

Dan rasanya baru saja setahun yang lalu, aku mengantarkan Bang Jin, sapaan akrab kami, berangkat ke Temanggung dengan teman-teman sekelasnya sewaktu SMA untuk menghadiri pernikahan salah satu dari mereka. Dan hari ini aku mendatangi resepsi pernikahannya, yang entah apakah setahun yang lalu memikirkan soal itupun mungkin belum (sok tahu).

Tapi terlepas menyoal itu, 
kebahagiaan yang terpancar dari momentum tadi adalah wujud nyata. Betapa kasih sayang bisa melunakkan segalanya, dan menunjukkan manusia menjadi sebenar-benar fitrahnya: saling mengasihi, menyayangi. 

Selfie bareng di nikahan Bang Faizin 
Menyaksikan prosesi sakral pernikahan semakin membawa emosi tersendiri yang cukup membekas. Betapa pertemuan dan perpisahan adalah sebenar-benarnya perjalanan yang tidak bisa dielakkan dalam dinamika kehidupan. Lalu kemudian terbayang beberapa kisah yang baru saja berlalu. Dan kutuliskan sajak di awal tulisan ini untuk mengenang. 

Foto bersama squad LPI Angkatan 5 di pintu masuk pesta pernikahan 
Untuk setiap kamu yang pernah berjumpa dalam tiap-tiap persimpanganku, kupersembahkan ucapan terima kasih terbaikku. Selamat bertumbuh.










September 06, 2019

"The Only You"




Kacau!
Hari ini teman lama ngajak ketemu. Ga ada yang aneh, sebuah ajakan ketemuan di sore hari setelah kesibukan kupikir kenapa tidak. Tidak cantik memang, tapi dia adalah teman lama yang benar-benar baik. Bahkan aku akui pernah sebegitu dekat dan percayanya sama dia. Dan mungkin itu sebuah kebablasan juga, karena ternyata mengirimkan sinyal yang salah tentang hubungan kami berdua. Di akhir makan malam bareng yang berlanjut ngopi santai di angkringan pinggir jalan, dia meracau.

Dia merasa dari kebersamaan yang sudah berlalu hampir setahun yang lalu, tidak ada hubungan kedekatan lagi yang jauh lebih istimewa daripada kami.  Merasa seperti dikutuk, semua hubungan yang coba dibangun olehnya dengan orang-orang baru tidak ada yang bisa berjalan dengan baik. Dan katanya lagi, aku harusnya sadar, satu-satunya orang yang sudah benar-benar memberikan bekas istimewa dalam hati dan pikirannya itu aku, seberapa besarpun aku pernah menyakiti dan merusak hidupnya di masa lalu. Aku adalah satu di antara teman-teman dekatnya yang mungkin spesial, menempati posisi teratas di hati dia. Di atas daripada yang lainnya.


"What if then we make, I, and you, being us? I want you" 

Wow.

Sayangnya aku berada pada pusara yang berbeda. Aku sebatas menganggap semua di antara kami berdua adalah persahabatan, pertemanan yang istimewa. Bukan dalam konteks lain. Dan setelah itu, kini cuman ada dua pilihan, menjadi lebih seperti yang dia tawarkan, atau pergi dan menjadi bukan siapa-siapa. Pertemuan ini jadi tidak seasik di awal perjumpaan. Diakhiri dengan pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar. Orang yang belajar diplomasi di kelas tidak bisa melunakkan untuk tawaran pilihan ketiga: menjadi biasa.

Setelah itu kita sepakat untuk berpulang. Dan keputusanku untuk menolak tawaran bersama membawa konsekuensi serius di pandangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi, dan aku pulang sendiri. Juga mungkin artinya kita tidak usah berteman lagi.



Aku paham betul, situasi seperti ini memang sulit. Ada luka yang akhirnya tergores, ada rasa sakit yang membekas. Dan kalau bukan kembali pada memuliakan diri sendiri, selamanya kita akan berlarut-larut pada kesedihan yang mungkin tidak perlu. Dan karena ini banyak orang menjadi tidak produktif berhari-hari, hilang akan jati dirinya dan bahkan lupa akan mimpi-mimpi yang pernah dibangunnya untuk masa depan. Dan itu bukan hanya pada teman yang baru saja kutemui ini, tapi termasuk juga yang mungkin kemarin baru saja aku lalui. 

Melihat orang lain datang, dan berada di posisi yang dulu sama di mana aku mengejar-ngejar perhatian orang lain adalah hal yang memilukan, terlebih karena ini adalah teman lamaku. Tidak ada maksud untuk menyakiti, aku paham betapa luka seperti itu pasti sakitnya bukan main, tapi sekali lagi aku rasa ada salah pengertian di antara kami

What I want to talk: 

What  if what all you need is only you. better version of you. Thats all. Happiness is not about another human is sitting in front of you, staring at you, in the middle of a romantic dinner without thinking about you. To be happy, It is all about you either you are with or without a man with you. 

Buat kamu yang merasa kacau karena stress, kecewa, patah hati terhadap orang lain. Yakinkan diri bahwa apa yang sedang kamu hadapi adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengesankan. Hari baik akan tiba, dan setiap hal bahkan sekecil apapun yang kita lalui adalah bagian dari rencana besar yang sudah disiapkan oleh semesta, Yang Maha Kuasa. 


So, Focus on you. 

Keep going, keep growing.

See you on better version of you. 

- A self reminder from me. 
For me and hopefully for everyone of you out there.


Ada alasan kenapa aku rasa kita sama-sama penting buat sadar betapa pentingnya menyadari diri sendiri, dan mencintai diri sendiri. Bukan egois, hanya sedikit self love agar kita tetap mampu bertahan dalam banyak dinamika hidup dan mungkin satu dua lompatan tegangan di dalam gelombang energi kehidupan yang kita jalani.

Kejadian yang baru saja aku alami ini seolah menampar pikiran-pikiran beracunku berminggu-minggu soal kesenangan dan kebahagiaan yang hilang. Yang didapatkan dari sahabat, teman atau bahkan pasangan.

Satu hal yang mungkin luput kita sadari adalah terkadang kita menjadi berlarut-larut ketika ditinggalkan, atau lebih buruknya menghadapi kematian orang dekat di sekitar kita. Yang terjadi sebenarnya adalah kesedihan yang timbul karena kita terjebak dalam memaknai kebahagiaan. Kebersamaan dengan individu lain sebagai sumber kebahagiaan tunggal. Dan mutlak. 

Pikiran semacam itu bahaya untuk ketenangan jiwa kita sendiri. Alih-alih menaruh harap kebahagiaan pada orang lain, seharusnya kita bisa melepaskan. Dan kembali mencintai diri sendiri, sebagai satu-satunya yang bertanggungjawab dalam mengolah rasa apapun dari momentum yang terjadi di dalam perjalanan hidup.  

Kadang yang kita butuhkan adalah menarik nafas sejenak lebih panjang. Dan menyadari, setiap kita berharga. "Dengan" ataupun "tanpa" kehadiran orang lain.




September 04, 2019

Galeri Dimas Diajeng Kota Jogja 2019




Lima tahun menempuh pendidikan dan menikmati hari-hari di kota istimewa Jogjakarta ternyata tidak terasa. Berlalunya hari-hari itu lambat laun mempertemukan saya dari satu kesempatan ke kesempatan lainnya bertemu dengan orang-orang baru dan pengalaman serta pelajaran hidup yang berkesan. Dari banyak kegiatan seperti kuliah, organisasi, konferensi, seminar, kepanitiaan sampai sesepele bertemu di jalan saat main menikmati liburan singkat, serangkaian petualangan itu membangun jejaring dengan anak-anak muda di lingkup Jogja.

Di tahun ke-lima di kota Jogja, salah satu sahabat dekat dari kepanitiaan event mengajak buat ikut bergabung dengan sebuah komunitas untuk anak-anak muda Jogja mengembangkan potensi dan passion-nya dalam aktivitas kepemudaan, pariwisata dan kebudayaan: Paguyuban Dimas Diajeng Kota Jogja. Dan ternyata memang sebagian besar teman-teman yang bergabung di dalamnya pernah kujumpai dalam acara-acara yang digelar di kota Jogja baik menjadi pendamping tamu, panitia sampai yang menjadi pembicara. Kupikir ini sebuah kesempatan berharga kalau bisa diterima dan menjadi bagian dari mereka. Perjalanan pun dimulai.



Tahapan Seleksi 
Dengan semboyan 'Muda, Dinamis, dan Berbudaya', kepribadian sebagai Dimas Kota Jogja ternyata memiliki ekspektasi dan standarnya sendiri dan oleh karena itu ternyata untuk menjadi bagian dari mereka ada prosedur seleksi yang cukup ketat yang harus dilalui. Saat itu tahapan pertama yang kami lalui adalah administrasi dan deep interview yang isinya seputar profil latar belakang, aktivitas saat ini, dan alasan mengikuti seleksi Dimas Diajeng tersebut. Tidak sampai di situ, tahapan-tahapan selanjutnya yang juga harus dilalui adalah psikotes yang terdiri dari bermacam-macam tes tentang logika, hitungan, menggambar yang kesemuanya untuk mengetahui kepribadian. Di hari yang berbeda kemudian dilakukan wawancara dengan beberapa pos berbeda dengan topiknya masing-masing; pariwisata, kebudayaan, public speaking, dan bahasa asing. Dalam proses itu sebenarnya cukup menyenangkan karena kami bisa berkenalan dengan sesama peserta satu sama lain, dan juga mendengarkan sesi sharing dari angkatan sebelumnya yang juga pernah melalui tahapan yang sama dua tahun lalu.

Setelah semua tahapan seleksi dilewati, maka akhirnya secara resmi kami dinyatakan sebagai Finalis Dimas-Diajeng Kota Jogja 2019 yang akan mengikuti rangkaian kegiatan karantina dan malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019.

Setelah penyematan selempang secara resmi sebagai Finalis Dimas-Diajeng, kami langsung memulai kegiatan pertama yaitu latihan drama berkelompok dan casting singkat untuk persiapan pertunjukan pementasan drama musikal. Tidak lupa setelah casting singkat tersebut, kamipun melalui prosesi penentuan pasangan Dimas-Diajeng yang akan menjadi pasangan kami selama proses pemilihan Dimas-Diajeng berlangsung.

Dokumentasi saat mengenakan selempang dengan pasangan diajeng, Diajeng Nina 



City Tour Mengenal Lebih Dekat Sejarah, Kebudayaan, dan Keistimewaan Jogjakarta 


City Tour Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat 

Setelah mengikuti seremonial penyematan selempang Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2019, kami menjalani satu bulan proses pengembangan diri menuju karantina. Beberapa kegiatan yang kami lakukan adalah kegiatan kunjungan city tour ke Kraton Kesultanan Ngayogyakarta, dan juga Pura Pakualaman.

Selain itu, kami juga berkesempatan mendapatkan museum tour di Gedung Agung, satu dari empat Istana Kepresidenan yang dimiliki negara, gedung megah di titik Nol Kilometer Jalan Malioboro.

Foto bersama city tour di Istana Kepresidenan Gedung Agung


Pementasan Drama Musikal
Dalam satu bulan proses kami menuju karantina, salah satu kegiatan yang menjadi wadah kami saling mengenal dan membangun kebersamaan adalah dalam mempersiapkan pementasan Drama Musikal yang diberi judul Dongeng Cinta Sekartaji. Dengan besutan naskah dan sutradara oleh Mas Shodiq Sudarti, koreografi oleh Mba Kinanti Sekar, dan komposer musik oleh mas Guntur Puspito.

Latihan Rutin Persiapan Penampilan Drama Musikal

Latihan untuk mempersiapkan penampilan ini kami lakukan hampir setiap malam sebulan sebelum karantina.


Dokumentasi pertunjukan Drama Musikal Dongeng Cinta Sekartaji 

Serangkaian kegiatan menuju karantina ini telah banyak menambah pengetahuan tentang sejarah kebudayaan Jogja dan berkesempatan untuk mendalami dan mempraktikannya secara langsung.


Karantina








Sebelum penyelenggaraan malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja digelar, kami diberikan karantina selama empat hari yang bertempat di Hotel Neo+ Yogyakarta.

Berbagai materi pelatihan diberikan mulai dari sejarah dan kebudayaan, kepariwisataan, leadershippersonal branding, public speaking, team work and event organizing, dan tentunya yang tidak boleh ketinggalan materi tentang bahasa dan budaya Kraton Jogja.

Semua pelatihan yang diberikan untuk mematangkan kepribadian kami para finalis untuk siap mengemban amanah sebagai duta wisata mewakili Kota Jogja dalam masa bakti dua tahun ke depan.

Malam Puncak Pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019 




Malam puncak ini merupakan momentum yang paling ditunggu, dan jika dilihat dari persiapannya baik dari para pemateri, panitia hingga kami peserta tidak main-main.

Malam puncak pemilihan Dimas Diajeng yang kami tunggu-tunggu pun meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Di tengah keriweuhan persiapan penampilan tari-tarian dan pidato advokasi yang akan kami sampaikan, di belakang panggung tiba-tiba suasana menjadi haru biru mengenang prosesi latihan dan serangkaian kegiatan yang tidak terasa telah kami lalui bersama.

Sangat bersyukur karena semua yang kami persiapkan dapat berjalan lancar. Malam-malam kami berlatih penampilan tarian, pidato advokasi dan berbagai kegiatan diskusi yang dilalui bisa terbayarkan dengan malam puncak yang berjalan dengan maksimal. Hingga akhirnya terpilih Dimas Ryan dan Diajeng Mala yang menjadi Dimas dan Diajeng Kota Jogja terpilih tahun 2019. Tentunya rangkaian kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa kreativitas dan kerja keras yang luar biasa dari para pendahulu kami, senior-senior kami di Paguyuban Dimas Diajeng Jogja yang telah mendedikasikan semuanya secara maksimal hingga malam puncak tersebut dapat terselenggara dengan baik dan maksimal.


Representasi Anak Muda Jogja

Malam puncak pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2019 pada hari Minggu, 28 April 2019 tersebut bukanlah menjadi akhir dari proses kami sebagai Dimas Diajeng Kota Jogja. Setelah prosesi tersebut, perjalanan kami 30 finalis Dimas dan Diajeng menjadi duta wisata kota Jogja baru saja dimulai dan dengan masa bakti dua tahun. Cukup berbeda dengan kebanyakan duta wisata daerah lainnya yang diselenggarakan setiap tahun.

Secara pribadi, mengemban status sebagai  Dimas Kota Jogja bukanlah hal yang mudah. Ada tuntutan dan harapan-harapan yang digantungkan kepada kami untuk dapat berkontribusi dalam agenda pembangunan kota Jogja khususnya dalam sektor pariwisata dan kebudayaan. Untuk memenuhi berbagai ekspektasi itu tentu tidak mudah, tapi justru menjadi motivasi untuk mau mengembangkan diri sekaligus mendedikasikan diri dalam hal yang positif. Selain mengikuti berbagai ajang pariwisata dan kebudayaan, kami juga terus dibekali pelatihan untuk peningkatan kapasitas untuk dapat menjadi lebih baik lagi.

Dimas Diajeng Jogja adalah rumah kami untuk mengembangkan potensi diri, tempat di mana kami saling menerima perbedaan, mendukung satu sama lain dan mendedikasikan diri sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing untuk bersama-sama mendukung pengembangan pariwisata kota Jogja.

Galeri selengkapnya kegiatan kami dapat diakses di Paguyuban Dimas Diajeng Jogja 


Self Healing: Bangkit, Kembali Jadi Diri Sendiri





Hola! kali ini iseng ceritanya akan bikin postingan di blog lagi yang niatnya rutin harian, semoga bisa aktif update dan berlanjut meskipun buat sekadar oret-oretan tidak jelas. 

Harapannya ini buat stimulus aja biar ke depannya bisa rajin update dan memaksimalkan platform blog ini sebagai wadah tulisan dan cerita soal momentum. Meskipun sebenarnya isinya sekadar highlight kejadian harian. Setidaknya bisa jadi media untuk berefleksi kembali, dan yang paling penting adalah untuk mengingatkan kembali buat BERSYUKUR, menjalani hari-hari yang dilalui.

Self Healing
Seperti judulnya, hari ini Selasa, 3 September 2019 highlight yang bisa aku rasakan adalah soal healing. Memaknai proses healing atau penyembuhan khususnya secara mental dan mungkin juga termasuk spiritual. 

Jujur, proses traumatik percintaan yang juga sangat erat kaitannya sama postingan terakhir sebelum ini adalah salah satu momen pembelajaran hidup paling berkesan. Karena cara pandangku pribadi soal cinta-cintaan yang dulunya melihat itu dengan sangat skeptis dan apatis, sekarang cukup jauh berbeda. 

Cinta memang benar-benar bisa merubah segalanya, kalau udah merasakan dan melalui fase ini pasti paham. Apalagi setelah putus cinta sama orang yang beneran terlanjur sayang banget, ternyata bisa menyisakan luka sejadi-jadinya sampai berpengaruh di semua aspek kehidupan, mengalihkan perhatian kerjaan sampai mengganggu kesehatan, pokoknya rasanya ngaruh ke semuanya. 

Dalam proses yang cukup memakan waktu dan energi dalam beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan terakhir, ada pelajaran yang bisa dipetik. Semesta benar-benar melatih aku untuk terlatih patah hati, (personally hehe). Alay banget kedengarannya ya. 

Dulu untuk sekadar menulis atau bahkan memikirkan kata-kata ini rasanya lebay banget dan ga pantas, tapi mungkin sekarang memang itulah yang terjadi dan kusampaikan saja sesuai konteks dan suasana yang terasakan, hehe. Sebulan penuh melankolis baper penuh dengan cinta-cintaan, berusaha move on dengan playlist pribadi "Love your self" di Spotify dan bacaan "Subtle Art of Not Giving A F*ck" yang tamat seminggu. 

Sisanya diisi dengan ngegym dan jogging buat mengisi waktu dan mengalihkan perhatian. Hitung-hitung buat mengembalikan kepercayaan diri sendiri dengan tubuh yang lebih sehat dan bugar.

Proses dari luka sampai berangsur-angsur menyembuhkan batin sendiri sudah berjalan kurang lebih dua bulan. Dan dari serangkaian proses penyembuhan itu, rasanya hari ini waktu yang tepat untuk  kembali mengevaluasi proses healing yang aku lalui itu. Voila! Been here so far, and I proud of me. 

Kuliah online Youtube: "Focus on Your Personal Development"
Selain bertemu dengan Mas Oki, seharian tadi kerjaan di kampus memang tidak begitu banyak. Jam 9:15 sebelum bertemu mas Oki cuman ada pertemuan singkat sekitar sejam buat progres event kampus yang juga untuk transisi ke penanggungjawab selanjutnya. 

Setelah rapat itu, sisa waktu di kantor YouSure dihabiskan buat belajar atau lebih tepatnya explore youtube dengan topik soal trauma dan self healing. Dari sederetan rangkaian video tutorial/materi coaching yang menghabiskan beberapa jam itu, kata kunci yang paling berkenan adalah soal personal development, atau fokus pada pengembangan diri sendiri. 

Alih-alih mengejar kebahagiaan atau hubungan yang sudah dilalui sebelumnya, harusnya menyikapi trauma semacam yang sedang aku hadapi adalah fokus dalam menggunakan waktu seefektif mungkin dengan kegiatan-kegiatan yang bisa membawa kebahagiaan pada diri sendiri. Melakukan aktivitas yang disenangi atau kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas diri (personal development).

Menikmati waktu berkualitas dengan sahabat dekat menurutku adalah salah satu opsi yang paling menyenangkan buat stress healing yang kurasa sedang kubutuhkan.  berbekal voucher yang sudah berlalu lebih dari tiga bulan yang lalu, Flip Burger jadi pelarian buat menikmati quality time dengan agenda makan malam berdua sama Aci, perempuan penyabar yang setia menjadi tempat pelarian buat tukar pikiran selama di Jogja. 

Di tengah obrolan ngemil burger, akhirnya tercetus ide buat nonton film Gundala karya mas Joko Anwar yang lagi banyak dibahas di twitter. Di resto Flip Burger yang tidak begitu ramai akhirnya diputuskan rencana nonton Gundala jam 21:45, Spare time buat Beli Baju Renang (buat Aci) di Hartono. Jam menunjukkan 20:00, Cheese Burger Combo, beef burger, kentang goreng panas, ayam goreng keju keasinan, dan dua kali refill Coca-cola terbabat habis. Oke any way langsung aja kita review Film ini di sini >>> Review Gundala karya Joko Anwar.

Dalam berproses menyembuhkan pikiran sendiri ternyata memang tidak mudah, tapi kalau kita mau berusaha benar-benar belajar merelakan, menikmati apa yang terjadi dan bergerak menjadi lebih baik, rasanya proses penyembuhan diri sendiri itu jauh menjadi lebih mudah. 

Kegiatan hari ini untuk bertemu orang-orang dan menjalani kehidupan rasanya semakin memantapkan keyakinan kalau aku sudah kembali seutuhnya dan menjadi diri sendiri dalam versi yang lebih baik. 

Dan rasanya kembali bertemu dengan kawan-kawan lama itu efektif sekali! Rasanya seperti kembali me-recharge pikiran dan mengembalikan kekuatan buat menyadari potensi dan kepribadian diri sendiri. 

Buat kamu yang mungkin juga sedang menghadapi stress, tetap semangat yaa. Ingat bahwa diri kita berharga, kebahagiaan kita ditentukan oleh kita dan bukan sama sekali oleh orang lain. Tetap semangat! Kalau butuh teman main, boleh deh kontek aja :)



May 20, 2019

PERGI






Memilih berpisah itu indah, jika dan hanya jika kau tahu semuanya akan sia-sia dan bertahan hanya akan memperparah luka. 

Yang menjadi masalah adalah karena aku merasa kebersamaan kita yang terakhir telah mengobati prahara yang sebelumnya meninggikan dinding di antara kita. 

Dan ketahuilah, kebersamaan yang kita rajut kembali itu menggetarkan gelombang yang begitu besar bahkan lebih dari segala yang pernah ada sebelumnya tentang kita. 

Namun kau memilih selesai. Menyelesaikan semua setelah kau anggap api yang kubuat semakin kubesarkan. 

Kau bilang pergimu adalah luka dari sakit hati. Perlakuan bodohku untuk membuka hati pada yang lain adalah sebuah pengkhianatan. Aku mengaku. Aku telah lalai menjaga hati. Dan aku benar-benar menyesal. Maafku untuk luka yang tergores sangat besar karena ulahku itu. Aku menyesal, dan aku minta maaf yang sedalam-dalamnya.

Tapi, itu semua sudah selesai. Kamu telah membawaku pada tahapan yang baru. Dunia cinta yang jauh lebih besar setelah bencana yang kau sebut badai pengkhianatan itu berlalu. Kau buka ruang bersama, lalu kita mengikat janji untuk memulai hari baru yang lebih indah. Aku bahagia, dengan cinta yang dua kali lebih besar. Dan akupun yakin, cintamu sama besarnya ketika itu. Kita berada pada lingkaran kasih dan ikatan tali cinta yang sama. Aku percaya. 

Tapi ternyata gesekan konflik yang terakhir kita lalui masih menyisakan bekas luka yang tertinggal. Yang ternyata luput dan muncul di tengah kebersamaan dibangun kembali. Dan kamu berontak, melihat ini sebagai luka dan sebuah pengkhianatan yang tidak terampuni.

Percayalah kasih, cintaku tulus menerimamu. Dan aku masih di sini menanti untuk waktu. Menunggu kita untuk kembali. Seperti komitmen yang persis kita sepakati janji kelingking untuk selalu bersama. Sebelum insiden sisa-sisa konflik kita itu justru datang dan menghancurkanmu. Lalu kita sama menjadi abu.

Rasa yang justru menjadi berbeda: Aku menyayangimu setelah meragukan, kau ragu dan meninggalkan setelah menyayangi.

Percayalah kasih, aku di sini merindukanmu. Merindukan senyum indahmu, peluk hangatmu, tulus hatimu, dan semua yang rela kau berikan untukku.

Aku menyayangkan kepergianmu. Berontak pada pengkhianatan yang seharusnya adalah badai yang kita berdua sepakat telah membuatnya selesai. Bahkan dengan cara yang begitu indah.  

Aku merindu. Izinkan aku menaruh rindu ini padamu. Meski kusadar, semua yang kuingin tak lagi bisa kembali padaku.


Mungkin inilah jalannya. Kurelakan dirimu pergi, ke manapun langkah kakimu kau bawa berlari. Dan aku di sini. Masih menikmati rasa cinta dan rindu yang tersisa. Dan penyesalanku dari ulah yang kubuat sendiri.

Semoga kau temukan jalan yang baik.

 Dan kita bersama menemukan hangatnya kasih dan indahnya cinta. Meski dengan orang yang berbeda.

——

*
Di Senja GSP, 15 Juli 2019

Sayang, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi menuruti apa yang jadi maumu.
Biar aku simpan rasa ini.
Dan jangan pula kau datang kembali. Jika itu hanya sekadar untuk jumpa dan beradu maaf. Aku rasa kita bisa dan telah saling memaafkan.
Kecuali, datangmu untuk benar-benar mendudukkan perkara secara bijak. Dan membicarakan semuanya. Benar-benar semuanya. Dengan kepala dingin.

————

18 Mei 2019


membuka ruang untuk kembali bersua dan berbagi kisah sejak tujuh bulan yang lalu adalah salah satu keputusan terbaik buatku. 


aku ingin kamu tahu, perjalanan yang kita tempuh berdua ini begitu indah. 


ketulusan dan kasih sayang yang selalu kamu hadirkan adalah penyemangat  terbesar buat aku. terlebih menghadapi titik-titik krusial dan momen-momen berharga kita satu sama lain. 


Darimu aku mendapatkan makna jatuh hati, peduli, berbagi, menghabiskan waktu dengan cinta, lalu rindu. lalu jatuh hati lagi. 


aku percaya, luka yang mewarnai sepanjang jalan ini adalah warna untuk merangkai pelangi yang indah. 


aku mohon, satu kali lagi. berikan aku kesempatan untuk membuktikan perjalanan kita masih pantas untuk dilanjutkan.



May 06, 2019

Cerpen: Luka yang Tak Kunjung Padam


Namaku Putra Olive Perdana, biasa dipanggil Olive, atau Olif. Aku sedang duduk di bangku kelas 2 di salah satu SMA swasta ternama di Jakarta. Aku dulu anak keempat dari lima bersaudara yang hidup penuh kebahagiaan  dengan berkecukupan, sebelum mereka semua tiada. Ya, aku kini hidup bersama Pamanku, om Irawan dan tante Vina.
Dulunya, keluargaku memang adalah keluarga yang rukun, dan selalu kompak di setiap menghadapi masalah. Rumahku yang dahulu terletak di Jalan Syekh Abdullah No.3 Banda Aceh, adalah saksi bisu dari semua hari-hari yang keluargaku jalani bersama. Walau 5 bersaudara, kami tetap kompak. Sebagai kakak beradik, kami  tentu pernah berbeda paham dan akhirnya bertengkar, tetapi itu masih dalam batas kewajaran. Setelah itu, kami kembali baikan. Itu semua sebelum tsunami di Aceh 24 Desember 2004 yang lalu telah menyapu rumah kami dan ikut menelan ayah dan ibu kami. Aku sangat terpukul dengan kepergian mereka. Tapi itulah kehidupan, yang ada awal dan ada akhirnya.
Image result for cartoon boys sketsa
 Setelah kami semua menjadi anak yatim piatu, kami dibawa oleh tante kami ke Sorong, Papua. Tante Ani namanya.
Ya, sangat sangat jauh dari daerah asalku sebelumnya. Di Sana, aku kemudian berusaha menghapus duka dari kepergian ayah dan ibu sambil bersekolah dan bercanda ria bersama teman-teman baruku. Ketika duka yang pedih itu hampir selesai terobati di hatiku, tiba-tiba gempa yang berkekuatan 8,2 S.R menggemparkan Sorong, Papua dan kembali merenggut nyawa semua anggota keluarga baruku tanpa terkecuali. Sangat pedih rasanya, hingga air mataku tak dapat lagi kubendung.
Pada shalat Jumat di pengungsian, aku terus berdoa dan meratapi semua musibah yang semakin hari terus datang tiada henti. Aku sempat berpikir, Apa Allah sengaja ingin merenggut semua kebahagiaanku? Tapi aku kemudian teringat dengan nasihat ibu. Allah selalu merencanakan yang terbaik. Mungkin ada hikmah di balik ini semua.
Satu minggu di pengungsian, Paman Irawan dari Jakarta datang menjemputku. Tidak ada pilihan, aku harus ikut ke sana karena hanya dia satu-satunya keluargaku sekarang. Tetapi perjalanan tak semulus dan sesingkat  yang ada di pikiranku. Proses transit dari Sorong ke Makassar saja sudah membuat sekujur tubuhku terasa lemas dan begitu lelah. Penundaan keberangkatan pesawat akibat cuaca yang ekstrim itu delay hingga dua hari dan membuatku semakin kacau. Ketika kami kembali memulai perjalanan dari Makassar ke Jakarta, kesialan kembali terjadi dan kembali menimpaku. Pesawat yang kutumpangi mengalami kecelakaan. “Huh, memang betapa sialnya sih aku ini”. Kalimat itu terus menghantui benakku. Untunglah kami tidak jatuh di Hutan rimba atau di laut dalam, masih ada setetes keberuntungan dari segentong kesialan yang menimpa hidupku. Pesawat kami jatuh disekitar desa Manjaraya, desa yang lumayan maju dan tidak begitu ketinggalan di sekitar daerah Kalimantan Selatan. Korban pesawat kami berjumlah 23 orang dengan luka yang cukup serius. Korban lainnya hanya mendapat luka ringan. Kami kembali harus menggunakan pesawat. Tapi, kali ini pesawat yang kami tumpangi tidak sesejuk dan senyaman seperti sebelumnya,  pesawat yang sekarang kami tumpangi adalah pesawat darurat TNI AU yang sesak dan penuh dengan manusia dan tumpukan barang bawaan para korban, termasuk mungkin tas selempangku yang berwarna abu-abu. Tapi entahlah, Aku tak ingin mengurusi itu dulu. Sekujur tubuhku bermandikan peluh karena sudah lelah bukan kepalang. Belum lagi lukaku di sikut yang begitu perih akibat menumbuk kursi pesawat yang harus kujaga. Aku begitu lama menunggu landingnya pesawat ini. Aku sudah ingin cepat-cepat turun dari sesaknya pesawat ini kemudian membilas badanku yang terasa semakin lengket. Entah apakah perasaanku saja, tapi rasanya perjalanan ini memang sangat lama. Kurang lebih tiga jam, kami akhirnya tiba di Jakarta.
Saat tiba di Jakarta, dengan pakaian yang sudah sangat lusuh ditambah lagi perban di sikutku ini, membuat Aku begitu kelelahan. Aku kemudian diperkenalkan kepada Istri om Irawan dan beberapa pembantu di rumahnya. Sayangnya, mereka belum dikaruniai anak, padahal rumahnya yang megah dan luas itu sayang kalau hanya dihuni enam orang saja.
Di Jakarta, aku kemudian diperkenalkan dengan dunia baru. Aku hanya berusaha menjalaninya dengan sebaik yang aku mampu. Mungkin karena om Irawan dan tante Vina belum dikaruniai anak, jadi mereka telah menganggapku sebagai anak mereka sendiri. Mereka sangat memperhatikan kebutuhan belajarku. Walau begitu, aku tetap membantu para pembantu rumah tangga yang kerja di rumah ini. Aku harus ingat siapa aku dulu. Pekerjaan-pekerjaan kecil aku usahakan kukerja sendiri. Ini sekaligus latihan bagi diriku untuk masa depanku sendiri agar tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Suatu hari, aku mendengar akan diadakannya OLIMPIADE SAINS NASIONAL di Bandung tahun 2008. Aku kemudian coba-coba ikut tes seleksi sebagai perwakilan DKI Jakarta Desember 2007. Susah dan sangat susah. Hanya kata itu yang menggambarkan tes seleksi itu. Tapi dengan berusaha ditambah doa, semuanya kuusahakan dilalui dengan tenang. Aku terus berdoa dan belajar keras hingga Alhamdulillah aku dinyatakan lulus seleksi duta DKI Jakarta dan menjadi satu dari 8 putra dan 15 putri perwakilan DKI Jakarta pada Olimpiade Sains di bidang Biologi. Senang, bangga, dan haru tercampur jadi satu. Paman Irawan sangat mendukung dan terus memberikan semangat untuk aku.
Tanggal 25 Mei 2008, kami berangkat ke Bandung untuk bertarung dan bersaing dengan 33 provinsi Indonesia. Selama kurang lebih menghabiskan waktu 2 bulan, aku berada di Bandung melalui tahap demi tahap penyisihan, dari 287 peserta Olempiade bidang Biologi, kemudian disisih menjadi 50 besar, 25 besar, 10 besar, 5 besar, hingga 3 besar.  Aku masih tersaring di 3 besar ini. Mungkin dewa kesialan yang selama ini mengikutiku sedang sibuk karena kebanjiran di kota besar seperti ini, atau sedang tertidur pulas berhibernasi, ataukah mungkin dia sedang menikmati libur panjangnya. Entahlah, tetapi mungkin salah satunya benar. Syukur dan Alhamdulillah, Aku akhirnya menjadi pemenang pada OLIMPIADE SAINS BIOLOGI tahun 2008. Aku sebenarnya tidak percaya. Apa ini cuma mimpi?  Aku sangat (tidak) ingin dibangunkan kalau ini memang ternyata benara-benar hanya mimpi. Tetapi memang ini adanya. Putra Olive Perdana utusan DKI Jakarta menjadi pemenang Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi. Kemana Dewa kesialan yang kemarin-kemarin membuntutiku? Sudahlah, nikmati apa yang sedang terjadi dulu..
 Senang dan bangga seperti diriku, perasaan semua keluarga Om Irawan, sampai para bibi pembantu juga turut menelponku ketika pengumuman di TV daerah dan swasta marak beredar tentang olimpiade ini. Bulu kudukku sempat merinding karena Aku masih tidak menyangka bahwa ini benar-benar terjadi. Aku menjadi anggota Tim Olimpiade Sains Internasional. Aku sangat bangga dan terharu mengingat semua perjuangan om Irawan dan istrinya, guru-guruku, dan semua teman-teman yang selalu memberikan dukungan besar kepadaku.
Sebagai kado dari keluarga paman Irawan dan Tante Vina, Aku diajak jalan-jalan ke Pulau Komodo. Bukan hanya itu, Kado yang paling istimewa bagiku adalah aku diadopsi oleh keluarga Om Irawan sebagai anak kandung. Ini juga menjadi kado yang paling istimewa dan yang akan paling kukenang selama hidupku. Sekarang aku memanggil om Irawan dengan sebutan Papa, dan tante Vina kupanggil dengan sebutan Mama. Air mata mengucur tak hentinya akibat desakan haru yang begitu besar sesak di dadaku. Sekali lagi terlintas di benakku, Apa lagi yang akan terjadi, karena aku cemas kalau Dewa kesialan yang selalu menghantuiku itu kembali datang mengikutiku.
Sebagai langkah selanjutnya dari OLIMPIADE SAINS BIOLOGI tahun 2008 lalu, aku kemudian diberi karantina di Jakarta untuk mempersiapkan diri menjadi duta Indonesia pada Olimpiade Sains Biologi Internasional. Walau di karantina, aku tetap sering bertemu dengan Papa dan Mama karena mereka sering menjengukku. Mereka memang nampaknya sangat sayang kepadaku.
Pada tanggal 27 Desember 2008, kami tim olimpiade Internasional bidang Biologi sebanyak 12 orang bersiap untuk diberangkatkan ke Beijing, China. Tanpa melupakan semua nasihat Ibuku yang kini ada di surga, Aku terus berdoa dan belajar keras. Dari 183 tim dari berbagai negara, kami bertarung memberikan yang terbaik. Dan akhirnya Alhamdulillah, kami akhirnya bisa berdiri di 10 besar kompetisi itu. Sangat membanggakan. Kabar yang lebih membahagiakan adalah ide-ide inovasi yang kami paparkan di babak sepuluh besar ini akhirnya diapresiasi dan lulus ke babak lima besar. Betapa riangnya kami saat itu. Untuk tiba di babak ini saja sudah sangat, sangat, dan sangat (belum) membanggakan bagi kami. Segera kuberitahukan kabar gembira ini kepada Papa dan Mamaku. Di selesai shalat Isyaku ini, aku berdoa, berterimakasih kepada Allah, dan kudoakan Ayah, Ibu, dan Semua kakak-kakakku agar mereka diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Tak kulupa ucapan terima kasih kepada Allah yang telah mengantarku hingga berada di tempat ini.
Babak lima besarpun tiba. Semua teman rekan-rekan setimku mulai guncang karena gugup menghadapi kompetisi ini. Wajar saja, hanya kami yang mungkin menurut kami paling (tidak) siap menghadapi lima besar kompetisi ini. Aku kemudian berinisiatif membangkitkan kembali semangat mereka. “Ayo teman-teman! Kita harus semangat! Berdiri di tempat ini tentu bukan hanya sekedar kebetulan. Semuanya berkat perjuangan kita bersama! Ayo kita buktikan kalau semua harapan orangtua kita, guru-guru kita, dan berjuta harapan orang Indonesia lainnya yang ada di pundak kita saat ini dapat kita wujudkan dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Ayo kita usahakan yang terbaik! Kita pasti bisa dengan kerja keras dan beribu doa yang telah kita lakukan selama ini!  Aku yakin kita anak Indonesia, dan kita pasti bisa!“
Tak kusangka, respon teman-temanku yang hening sesaat itu menjadi sangat menggebu-gebu bagaikan api yang baru saja memakan kayu bakar yang kering dan tertumpah minyak. Sangat membara. Mata mereka kemudian menjadi sangat cerah dan memancarkan energi positif yang begitu besar. Aku merasakan atmosfer semangat yang membara itu memang sangat-sangat besar. Aku sempat merinding merasakan semangat yang berkobar itu, kemudian membuatku seakan terkontak energi yang sangat besar dan akhirnya membuat ku dan teman-temanku ini bekerja semaksimal mungkin. Kalaupun kalah, setidaknya Aku bangga karena kami kalah dengan kondisi kalah terhormat.
 Setelah babak lima besar akhirnya diumumkanlah pemenang olimpiade biologi Internasional ini. Karena begitu gugup, aku ke kamar kecil sesaat sebelum pengumuman. Di kaca dinding WC itu kemudian kutatap dalam-dalam mataku sendiri, kemudian aku bertanya “Kamu sudah siap? Apa kamu sudah benar-benar siap dengan kalah atau menangnya kamu di kompetisi ini? Ingatlah bahwa ada berjuta-juta harapan sedang kamu pikul di pundakmu saat ini. Apa kamu sudah siap?”
Kemudiankurasakan  hati kecilku sendiri yang menjawab dengan tegas “Ya! Aku memang sudah sangat siap. Siap atau tidak siap kondisi fisikku, kondisi mentalku menyatakan siap dengan semua yang akan teradi.  Aku sudah berjuang sangat keras hingga berada di tempat ini. Suatu kebanggaan besar untuk berdiri di tempat ini. Tidak semua orang bisa sampai di sini. Menang atau kalah, Aku sudah sangat siap karena kami sudah memberikan yang terbaik.” Tak kurasa, air mataku sudah membanjiri lagi pipiku ini. Kondisi yang begitu hening ini membuat aku menjadi entah sangat merasakan keharuan yang begitu besar. Segera kusapu air mata itu dan aku kemudian bersegera kembali menuju ke tempat pengumuman.
Setelah keluar dari kamar kecil itu, kulihat salah seorang temanku mengucurkan air mata. Saat itu mataku sih memang masih merah dan berkaca-kaca.  Yang lainnya kulihat saling berpelukan dengan mata yang berkaca-kaca pula. “Apa yang terjadi?” benakku berucap.
 Aku menjadi sangat bingung dan penasaran dengan kejadian apa yang baru saja kulewatkan. Mengapa semua orang terlihat haru dan seakan ikut merasakan apa yang baru saja kurasakan. Farhan berjalan kearahku. Kupandangi matanya yang merah sedang menangisi sesuatu yang Aku sendiripun belum tahu.
“Olive! Kamu adalah motivator yang cerdas dan handal!” Hanya itu yang Ia katakan. Farhan memegang kedua pundakku dan kemudian diam hening tanpa kata lagi. Ia hanya mengucurkan air matanya yang kulihat sangat deras. Aku sebenarnya belum sepenuhnya paham dengan perkataan Farhan. Setelah beberapa menit terdiam, Farhan kembali berbicara. “Idemu tentang inovasi bioteknologi itu diterima dan memenangkan olimpiade ini Oliv! Gue bangga bisa kenal kamu Liv! Kamu bakar semangat kami semua dan kemudian menggagas sebuah ide yang bisa mengubah masa depan. Luar biasa!” Senyum Farhan mulai Nampak diantara ekspresi sedihnya sedari tadi mengalir di hadapanku. Entah Selama beberapa menit itu Aku merasa sangat hening padahal Aku sedang berada di tengah gemuruh tepuk tangan dan sorak-soray orang-orang yang hadir di acara ini.
Aku tak menyangka, tim kami dari Indonesia memenangkan babak lima besar dan akhirnya memperoleh medali emas kompetisi ini. Sekali lagi dalam hidupku, semua orang mengucurkan air mata dan seakan tak ada henti-hentinya. Termasuk air mata yang megucur di pipiku ini. Air mata haru ini begitu deras mengalir mengingat semua perjuangan kami, perjuangan pembimbing kami, orangtua kami, teman-teman kami, semuanya. Kami naik ke panggung megah dan diperhatikan ribuan pasang mata dengan iringan tepuk tangan yang bergemuruh dan sorak-soray orang-orang yang hadir di acara ini. Aku berdiri di tempat ini. Aku bangga! Seutas medali emas kemudian dikalungkan di leherku dan begitu pula di leher teman-temanku. Kami turun dengan berkalung medali emas. Suatu momen yang paling membahagiakan di dalam hidupku dan tidak akan kulupakan sepanjang hayatku. Putra Olive Perdana, 16 Tahun, anak Indonesia, satu dari 12 orang Tim Olimpiade Biologi Internasional pulang dengan medali emas. Subhanallah. Andai Ayah dan Ibu masih ada. Andai Kakak-kakakku masih ada, mereka juga akan ikut tersenyum bangga menyaksikan prestasi kami ini. Semoga mereka tenang di alam sana.
Setibaku di Tanah Air, aku dijemput oleh banyak sekali masyarakat yang tak sabar menyaksikan tibanya Tim Olimpiade Biologi Internasional yang pulang membanggakan Indonesia. Mulai dari pejabat-pejabat negeri, orang-orang terdekat kami, pokoknya ada ribuan orang yang memadati bandara Halim saat itu, termasuk para reporter, serta teman-teman kami semua hingga Nampak seperti semut-semut yang mengerumuni sekeping biang gula. Semua menjemput kami dengan rasa bangga. Di sini kulihat begitu banyak pejabat yang hadir dan bersalaman dengan kami, Bapak presiden, Menteri Pendidikan, dan pejabat lainnya yang tak bisa kusebutkan satu per satu. Papa dan Mamaku langsung memelukku dengan air mata haru mereka yang tak hentinya mengalir. Air mataku secara otomatis kembali mngalir deras hanyut dalam keharuan itu.
Sesaat, aku berpikir ke mana dewa sial yang dulu sering membuntuti aku. Apakah dewa kesialan memang sedang libur panjang, atau dia sudah lengser dari hidupku, kuacuhkan pikiran itu dan aku kembali menikmati apa yang saat ini terjadi. Aku sadar semua ini berkat dorongan dari Papa dan Mama, serta semua guru-guruku, teman-temanku, termasuk dorongan kedua orang tuaku yang telah tenang di alam sana. Tanpa mereka semua, kami tidak mungkin bisa seperti ini. Terima Kasih Tuhan, Terima kasih atas semuanya yang kau berikan di balik hikmah dari tangis yang tak kunjung padam.